Ini yang Harus Diketahui dari Depresi Pascamelahirkan

Torie Natalova    •    Jumat, 06 Oct 2017 14:21 WIB
psikologi
Ini yang Harus Diketahui dari Depresi Pascamelahirkan
Jika Anda atau kerabat mengalami depresi ini, segera cari bantuan. Seiring waktu, depresi pascamelahirkan dapat bertambah buruk. (Foto: Lauren Naefe/Glamour.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Mulai dari Gwyneth Paltrow, Brooke Shields hingga Adele, banyak selebritas Hollywood yang mengalami depresi pascamelahirkan atau postpartum depression. Depresi ini bukanlah hal yang jarang terjadi.

Wanita akan cenderung lebih emosional setelah melahirkan karena kadar hormon yang berfluktuasi. Namun, ada perbedaan antara perubahan suasana hati yang normal dan depresi pascamelahirkan.

Wanita yang mengalami depresi pascamelahirkan mungkin mengalami kesedihan yang luar biasa, perasaan putus asa, tidak bermutu dan rendah diri. Selain itu, menurut Karen Kleiman direktur Postpartum Stress Center, mudah marah, emosional, kecemasan akut dan serangan panik juga bisa jadi gejala depresi pascamelahirkan.



Depresi pascamelahirkan dapat juga membuat wanita sering menangis, kehilangan nafsu makan dan kemampuan untuk konsentrasi karena mengalami pikiran yang terganggu akan bahaya yang mungkin terjadi pada bayinya. Kesulitan tidur bahkan bunuh diri bisa saja terjadi jika depresi dibiarkan.

Psikolog Tamar Gur mengatakan, depresi pascamelahirkan bisa membuat seorang wanita mengisolasi diri sendiri. Mereka tidak ingin meninggalkan rumah, tidak ingin ada yang datang menjenguk termasuk rekan dekat sekalipun.

(Baca juga: Plus Minus Melahirkan Normal dan Caesar)

Baby blues berbeda dengan depresi pascamelahirkan. wanita yang mengalami baby blues hanya akan merasakan emosional setelah melahirkan dan memiliki gejala yang datang dan pergi. Sementara depresi pascamelahirkan memiliki gejala yang berlangsung lebih dari dua minggu. Gejala biasanya dimulai saat kehamilan atau empat minggu setelah melahirkan.



Jika Anda atau kerabat mengalami depresi ini, segera cari bantuan. Seiring waktu, depresi pascamelahirkan dapat bertambah buruk. Penting juga untuk memberitahu pasangan untuk mendapatkan dukungan, membantu mencari solusi dan pengobatan.

Depresi ini seperti penyakit diabetes atau tekanan darah tinggi yang harus ditangani dengan tepat karena jika dibiarkan dapat mempengaruhi bayi dan ibunya. 

Seperti penyakit medis umumnya, ada banyak tingkat keparahan depresi pascamelahirkan. Ibu dengan kasus yang lebih ringan mungkin merasa lebih baik setelah perawatan dan mendapat bantuan dari orang terdekatnya. Ibu lainnya mungkin dapat terobati dengan terapi bicara atau mengonsumsi obat antidepresan.











(TIN)