Mengenal Kanker Serviks, Penyakit yang Merenggut Nyawa Julia Perez

Nia Deviyana    •    Minggu, 11 Jun 2017 09:53 WIB
kanker serviks
Mengenal Kanker Serviks, Penyakit yang Merenggut Nyawa  Julia Perez
(Foto: Women's Health)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kanker serviks adalah penyakit yang ditakuti wanita setelah kanker payudara. Penyakit ini juga yang merenggut nyawa Julia Perez. Pedangdut dan aktris film itu mengembuskan napas terakhir pada Sabtu, 10 Juni 2017.

"Kanker serviks bukan penyakit keturunan, melainkan infeksi dari Human Papiloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18. Virus-virus ini menyebabkan lebih dari 75 persen kanker serviks," ujar dr. Andi Darma Putra, Sp.OG. (K) Onk, Staf Pengajar Obstetri dan Ginekologi di FKUI RSCM.

HPV ditularkan tidak selalu melalui hubungan seksual, bisa juga melalui kontak kulit dengan kelamin.

(Baca: Cegah Kanker Serviks Sejak Dini dengan Imunisasi)

Kanker serviks bisa terjadi pada semua usia dalam kehidupan perempuan. Data menunjukkan, setengah dari semua perempuan yang didiagnosis menderita kanker serviks rata-rata berusia 35-55 tahun.

"Kemungkinan besar, mereka sudah terkena HPV pada waktu remaja, yaitu sekitar usia 20 tahun atau saat mulai terpapar dengan aktivitas seksual," imbuhnya.

(Baca: 6 Fakta tentang pencegahan kanker serviks)

Kanker serviks tidak terjadi tiba-tiba. Virus kanker perlu waktu bertahun-tahun untuk berproses menjadi kanker, walaupun terkadang dapat terjadi juga dalam kurun waktu singkat.

"Ketika seorang perempuan terinfeksi tipe-tipe tertentu dari HPV, kemudian sistem imun tubuhnya tidak mampu membersihkan virus tersebut, maka sel-sel abnormal dapat berkembang di permukaan serviks. Bila tidak diobati sejak dini, sel-sel abnormal akan berkembang menjadi pra kanker, dan secara bertahap menjadi kanker," jelasnya.

Perubahan menjadi kanker tersebut bisa terjadi dalam rentang waktu 3-20 tahun, tetapi rata-rata adalah 10 tahun.

Berdasarkan saran Badan Kesehatan Dunia (WHO), tindakan primer pencegahan kanker serviks dan penyakit akibat virus HPV lainnya adalah vaksinasi HPV.

Sedangkan, tindakan sekunder bisa dengan melakukan skrining dengan tes Pap (Pap Smear), dan terapi dini saat sel abnormal masih di tahap pra kanker.

Di Indonesia, kematian perempuan akibat kanker serviks tercatat paling tinggi se-Asia Tenggara. Namun, kesadaran perempuan akan bahaya penyakit ini masih minim.

Itulah mengapa, 70 persen penderitanya baru diketahui terinfeksi saat kondisinya sudah memasuki stadium lanjut. Deteksi dini menjadi langkah awal yang efektif untuk mencegah dan mengobati penyakit ini, sebelum virusnya memiliki kesempatan untuk menyebar.

 


(DEV)