Cerita Rachel Amanda Pernah Mengidap Kanker Tiroid

   •    Rabu, 23 Aug 2017 16:02 WIB
kesehatan
Cerita Rachel Amanda Pernah Mengidap Kanker Tiroid
Rachel Amanda (Foto:Media Indonesia)

Metrotvnews.com, Jakarta: Terdiagnosis kanker sempat membuat artis Rachel Amanda amat risau. Kala itu, setiap hari ada dua momen yang kerap membuatnya bersedih. Malam menjelang tidur serta saat bangun di pagi hari.

"Saya jadi benci saat-saat bangun tidur dan menjelang tidur. Di dua waktu senggang itu membuat saya sering kepikiran, 'Oh, saya kena kanker tiroid (suatu kelenjar di leher).' Pikiran itu bikin resah," tuturnya saat menghadiri Seminar Edukator Tiroid Jakarta Endocrine Meeting (JEM) 2017 di Jakarta, belu lama ini.

Ia mengisahkan, saat itu dirinya masih duduk di kelas 3 SMA. Berawal dari mamanya yang melihat benjolan di lehernya yang makin lama makin membesar, ia memutuskan menjalani operasi.

"Jadi, awalnya saya memang punya gangguan hipertiroid, tapi sudah menjalani pengobatan. Gejala-gejala hipertiroid seperti cepat capek dan mudah keringatan juga sudah bisa diatasi. Masalahnya kemudian timbul benjolan di leher itu," tambah dia.

Karena alasan estetika terkait dengan profesinya sebagai artis, ia pun menjalani operasi pengangkatan kelenjar tiroid yang membesar itu. Tak disangka, saat dilakukan pemeriksaan lanjutan terhadap kelenjar tiroid yang sudah dioperasi itu, ada sel-sel kanker yang berkembang.

"Pembesaran di tiroid bagian kanan sih cuma tumor jinak. Nah, bagian kiri tiroid yang nggak membesar justru ada sel-selnya ganas, sel kanker," paparnya.

Diagnosis itu membuatnya syok karena momok kanker yang identik dengan penyakit berbahaya. Ia sempat dirundung kesedihan. Namun, beruntung, seluruh keluarga mendukung dan mendorongnya menjalani pengobatan.

"Kebetulan ada beberapa saudara yang dokter. Saya disarankan mengikuti prosedur pengobatan medis. Saya ikuti seluruh prosedurnya, termasuk yang terakhir dengan pengobatan yodium radioaktif. Bersyukur, saya dinyatakan sembuh," kata Amanda lega.

Ia menambahkan, meski sempat menderita kanker, ia mengaku masih beruntung karena yang diidapnya kanker tiroid. Jenis kanker yang menurut para dokter memiliki harapan tinggi untuk bisa disembuhkan.

Dokter spesialis penyakit dalam dari FKUI-RSCM, Dante Saksono Harbuwono, membenarkan pernyataan Amanda. Di antara berbagai jenis kanker, kanker tiroid terbilang lebih mudah diobati. "Hampir semua kasus kanker tiroid bisa disembuhkan," ujar Ketua JEM 2017 itu.

Ia menjelaskan gejala kanker tiroid antara lain timbul benjolan di leher, di lokasi kelenjar tiroid. Benjolan itu akan bergerak ketika seseorang menelan. "Langkah mudah untuk melihat ada tidaknya benjolan itu, berdiri di depan cermin lalu telan ludah. Amati apakah ada benjolan yang bergerak di leher," sarannya.

Seseorang yang memiliki benjolan mencurigakan itu, lanjutnya, sebaiknya memeriksakan diri lebih lanjut ke dokter. "Tapi tidak perlu khawatir duluan, sebagian besar benjolan di leher merupakan tumor jinak, bukan kanker," katanya.

Data statistik menunjukkan benjolan pada kelenjar tiroid cukup banyak ditemukan di populasi. Jika dilakukan general check-up dengan USG, angkanya bisa mencapai 50 persen dari populasi. Namun, untungnya hanya sekitar 1-5 persen dari benjolan tersebut yang terbukti kanker.

Pemeriksaan USG memang menjadi langkah awal untuk memeriksa benjolan tersebut. Jika benjolan itu dicurigai sebagai kanker, biopsi atau pengambilan sampel jaringan dengan jarum akan dilakukan. Sampel itu akan diperiksa di laboratorium untuk menentukan ada tidaknya sel-sel kanker.

"Jadi, biopsi ini diperlukan untuk menegakkan diagnosis. Perlu dipahami, pernyataan bahwa biopsi justru menyebarkan kanker itu salah. Biopsi aman dilakukan."

Pengobatan

Jika hasil biopsi menunjukkan adanya sel-sel kanker, lanjut Dante, pengobatan perlu dilakukan. Pengobatan kanker tiroid mencakup tiga langkah, yakni operasi pengangkatan kelenjar tiroid, pemberian yodium berkandungan zat radioaktif, serta suplementasi hormon tiroksin.

"Penyuntikan yodium radioaktif berfungsi membunuh sel-sel kanker tiroid yang mungkin menyebar ke organ lain," kaya Dante.

Prinsipnya, sel tiroid merupakan satu-satunya jenis sel tubuh yang bersifat menyerap zat yodium dalam jumlah besar. Sifat itu tetap ada pada sel kanker tiroid. Jadi, ketika pengidap kanker tiroid diberi suntikan yodium yang sudah ditempel dengan zat radioaktif, sel-sel kanker tiroid akan menyerapnya, termasuk sel kanker tiroid yang mungkin sudah menyebar ke organ lain, seperti hati, paru, dan tulang belakang.

"Lalu, zat radioaktif pada yodium itu akan merusak sel-sel kanker sehingga kanker bisa dibasmi tuntas," imbuh Dante.

Sementara itu, suplementasi hormon tiroksin diperlukan karena ketika kelenjar tiroid yang terkena kanker diangkat melalui operasi, penderita kanker tidak lagi memiliki kelenjar tersebut. Padahal, kelenjar itu berfungsi memproduksi hormon tiroksin yang sangat penting untuk metabolisme tubuh.

"Jadi, diperlukan pasokan hormon tiroksin dari luar seumur hidup. Ini bukan ketergantungan, tapi memang kebutuhan," jelas Dante.

Menutup penjelasannya, Dante mengingatkan kanker tiroid juga bisa muncul tanpa gejala benjolan. Karena itu, mereka yang berisiko (lihat grafik) terkena kanker itu dianjurkan menjalani USG tiroid secara berkala. (Eni Kartinah/MI)


(DEV)