Studi: Mentruasi Dini Tingkatkan Risiko Stroke

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 10 Feb 2017 14:57 WIB
studi kesehatanstroke
Studi: Mentruasi Dini Tingkatkan Risiko Stroke
Menstruasi dini dipengaruhi oleh beberapa hal seperti faktor genetik, perilaku dan sosial ekonomi. (Foto: Drozblog)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah studi mengungkapkan bahwa wanita yang mengalami menstruasi di usia 13 tahun atau lebih mudah memiliki kecenderungan terkena stroke 1,8 kali lipat dibandingkan dengan mereka yang mengalami mentruasi di usia 15 tahun.

Dilansir dari Thehealthsite.com, wanita yang mengalami menstruasi lebih dini juga berisiko terkena infraksi otak dimana jaringan tertentu di otak mati karena kekurangan oksigen dan aliran darah menurun.

"Menstruasi dini bisa memprediksi insiden stroke dibandingkan kematian karena stroke," ujar Takayoshi Ohkubo, Professor di Tohoku University, Jepang.



Selain itu, menurut studi, wanita yang berhenti menstruasi di usia 45 tahun atau cenderung terkena infraksi otak dibandingkan wanita yang terkena menopause saat menginjak usia 50 tahun.

Studi yang dipublikasi dalam jurnal Neuroepidemiology tersebut melibatkan 1.412 wanita post-menopause di Jepang. Para peneliti melacak kapan mereka mengalami mentruasi dan menopause melalui beberapa pertanyaan dan survei lanjutan. 

(Baca juga: Hati-hati, Stroke Mengintai Orang Usia Muda)

Selain itu, para patisipan juga ditanyai apakah mereka pernah terkena stroke dan beberapa faktor pendukung seperti berat badan dan tinggi badan, penyakit jantung dan hipertensi.

Setelah memasukkan fakto-faktor tersebut, para peneliti tetap menemukan hubungan signifikan antara risiko stroke dan menstruasi dini secara statistik.

Menstruasi dini dipengaruhi oleh beberapa hal seperti faktor genetik, perilaku dan sosial ekonomi.

"Mencoba menghambat menstruasi dapat membantu mencegah strok adalah ide yang bagus mengingat kebanyakan perempuan di negara berkembang mengalami menstruasi dini," demikian menurut para peneliti.

Namun, bagaimana cara untuk menghambatnya secara efektif membutuhkan penelitian lebih lanjut. 






(TIN)