Hasil Survei: Tak Cuma Perempuan, Laki-laki juga Gemar Suntik Botox

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 29 Sep 2016 18:18 WIB
kesehatankecantikan
Hasil Survei: Tak Cuma Perempuan, Laki-laki juga Gemar Suntik Botox
(Foto: thederminstitute)

Metrotvnews.com, Jakarta: Banyak orang berpikir bahwa suntik Botox hanya dilakukan perempuan. Faktanya, laki-laki pun gemar melakukan suntik ini.

Menurut American Society of Plastic Surgeon, antara rentang tahun 2000 hingga 2010, jumlah pria yang menjalani prosedur Botox meningkat hingga 25,8 persen.

Alasan penggunaan bermacam-macam. Mulai dari meningkatkan penampilan, suasana hati, dan percaya diri di lingkungan pekerjaan dan asmara.

Suntik botok nyatanya tak hanya berpengaruh dalam hal estetika, tetapi juga untuk kesehatan. Misalnya, untuk mengatasi keringat berlebih di daerah ketiak. Secara umum, kelenjar keringat laki-laki lebih aktif dibandingkan perempuan.

"Botox dapat menghambat produksi kelenjar keringat yang ada di daerah sekitar suntikan," jelas dr. Anna Gunawan, SpKK, dari Rumah Sakit Khusus Bedah (RSKB) Bina Estetika, dalam diskusi media 'Cantik Dengan dan Tanpa Bedah Plastik,' di Jakarta, Kamis (29/9/2016).

Fungsi lainnya, botox bermanfaat untuk mengatasi migren, spasme otot, retensi urin, dan inkontinensia (mengompol).

Dari segi prosedur, pemberian kadar Botox pada laki-laki dan perempuan tak sama. Kadar lebih tinggi diberikan pada laki-laki karena otot yang dimiliki lebih menonjol, terutama pada bagian dahi.


Untuk estetika, bagian tubuh yang disuntik yakni di sekitar alis dan tepi luar mata. Suntik di bagian ini berfungsi mengurangi ketegangan pada wajah. 

Pada laki-laki lanjut usia, suntik botox juga bermanfaat meningkatkan fungsi penglihatan.

"Biasanya akan diaplikasikan di daerah kelopak mata karena semakin tua, maka area tersebut akan mengalami penurunan fungsi yang bisa menganggu penglihatan. Jadi bagian tersebut perlu dikencangkan," jelas dr. Sidik Setiamihardja, SpB, SpBP pada kesempatan yang sama.

Kontroversi


Botox berasal dari kata botulinum toxin A, yaitu protein murni yang diekstraksi dari bakteri clostridium botulinum. 'Racun' ini dapat menyebabkan lumpuhnya fungsi saraf jika disalahgunakan. Di sisi lain, botox mampu merelaksasi otot wajah dan membuat kulit bagian luar terasa kencang.

Sempat mengalami kontroversi pada awal kemunculannya, kini botox telah digunakan di lebih dari 70 negara dan dianggap aman.

Proses penyuntikan Botox hanya membutuhkan waktu antara 20-30 menit tanpa perlu menggunakan anastesi karena hanya menggunakan jarum yang sangat kecil, sehingga hanya sedikit daerah kulit yang teriritasi.

Efek botox baru mulai terasa setelah 5-7 hari pasca penyuntikan, dan bertahan selama 4-6 bulan.

"Efeknya akan berkurang secara perlahan dan kembali ke bentuk semula. Namun perlu diingat bahwa hal tersebut tidak akan memperburuk wajah," terang Anna.

Pemakaian botox dalam dosis yang tepat membuat wajah menjadi terlihat segar dan kencang. Namun, jika digunakan secara berlebihan dan tidak pada lokasi yang dianjurkan, maka efeknya akan terlihat pada mimik wajah yang terlihat flat atau datar.

Efek samping penggunaan botox yang salah juga dapat menyebabkan nyeri kepala, infeksi saluran napas, flu syndrome, blefaroptosis (kelopak mata tampak jatuh), mual, dan rasa kembung.

"Bagi mereka yang mengonsumsi obat pengencer darah, sebaiknya hentikan penggunaan dua minggu setelah menyuntik Botox," kata Anna memberi saran.


(DEV)