Hormon Cinta Dapat Sembuhkan Dengung Pada Telinga?

Sri Yanti Nainggolan    •    Senin, 26 Sep 2016 11:44 WIB
studi kesehatan
Hormon Cinta Dapat Sembuhkan Dengung Pada Telinga?
Tinnitus adalah penyakit dimana terdengar suara mendengung meskipun sebenarnya tak ada. (Foto: Health)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah studi di Brazil menemukan bahwa tinnitus atau dengungan pada telinga dapat disembuhkan dengan cara menyemprotkan hormon oksitosin di hidung. 

Oksitosin biasa disebut hormon cinta, karena menyebarkan koneksi sosial yang membantu meringankan suara-suara mengganggu, seperti tinnitus. 

"Oksitosin dalam otak dan telinga yang dapat membantu dalam pengobatan tinnitus secara langsung," kata pemimpin peneliti Dr Andreia Azevedo, peneliti dari departemen THT di Universidade Federal de Sao Paulo.

Namun, tidak semua setuju dengan pernyataan tersebut. Bahkan, Azevedo sendiri belum mengerti secara jelas mengapa hal itu terjadi. 

Dia berspekulasi bahwa kemungkinan hormon tersebut memberi efek pada regulasi cairan di telinga bagian dalam, dan efek otak yang mungkin berhubungan dengan produksi dopamin dalam neurotransmitter. 

"Pada beberapa pasien, tinnitus menghilang atau setidaknya berada pada tingkat yang tak membuat stres," ujar Azevedo. Bagi yang menjalani pengobatan tinnitus, ada yang mengalami penurunan dan ada yang sembuh saat pengobatan berakhir.

(Baca juga: 7 Penyebab Telinga Sering Berdengung)


Meskipun oksitosin aman, efek jangka panjang dari hormon tersebut belum diketahui. Oleh karena itu dibutuhkan penelitian lebih lanjut.

Tinnitus adalah penyakit dimana terdengar suara mendengung meskipun sebenarnya tak ada. Bentuknya dapat berupa degungan, suara jangkrik, atau desisan. Hal tersebut bisa menganggu orang dalam hal berpikir, konsentrasi, tidur, hingga emosional. 

Studi tersebut meneliti 17 orang penderita tinnitus secara acak dengan usia rata-rata 63 tahun, mereka dihembuskan oksitosin atau plasebo (air suling) di setiap lubang hidung. Kemudian mereka diminta untuk menilai gejala tersebut setelah 30 menit dan 24 jam kemudian. 

Tim Azevedo menemukan, pasien yang menerima oksitosin melaporkan penurunan yang signifikan dalam tinnitus, dibandingkan dengan mereka yang menerima plasebo.

Namun, meski memberi efek positif, masih belum jelas manakah yang menyebabkan gangguan tersebut membaik. 

"Hal tersebut memang membantu, namun belum jelas apakah karena oksitosin atau plasebo. Juga belum diketahui apakah metode ini memberikan efek jangka panjang," ujar Dr. Darius Kohan, selaku kepala otology/neurotology di Lenox Hill Hospital and Manhattan Eye, Ear, and Throat Hospital di New York City. 

Selain itu, kata dia, hormon tersebut memiliki efek samping yang serius, seperti detak jantung tidak normal, tekanan darah rendah yang tidak normal, tekanan darah tinggi, reaksi alergi, sesak nafas, mual dan muntah.

"Orang yang menderita tinnitus tidak seharusnya mulai menggunakan oksitosin, karena meski memiliki manfaat, terdapat juga efek buruknya. Saya belum bisa mengatakan untuk merekomendasikan hal itu," kata Kohan.






(TIN)