Transplantasi Jantung Belum Bisa Dilakukan di Indonesia

Media Indonesia    •    Rabu, 28 Sep 2016 10:59 WIB
kesehatan jantung
Transplantasi Jantung Belum Bisa Dilakukan di Indonesia
(Foto: Mayo Clinic)

Metrotvnews.com, Jakarta: Gagal jantung merupakan kondisi ketika organ jantung tidak dapat melaksanakan fungsinya dengan baik, yakni memompa darah ke seluruh tubuh. Hal itu terjadi ketika otot-otot jantung rusak sehingga terlalu lemah untuk memompa darah, dan memberi pasokan zat-zat nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan sel-sel tubuh.

Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Bethsaida Hospitals, Tangerang, Banten, Raja Adil Cakranegara Siregar, gagal jantung merupakan kondisi terminal atau akhir dari keseluruhan penyakit jantung. Penyakit jantung koroner, jantung hipertensi, jantung bawaan, dan aritmia jantung bisa menjadi pemicu terjadinya gagal jantung.

"Apapun penyakit jantungnya semua akan berakhir pada gagal jantung jika tidak ditangani dengan benar," ujarnya saat ditemui Kamis (22/9).

Semua penderita penyakit jantung, tambahnya, berisiko terkena gagal jantung. Gejala umumnya, penderita merasakan sesak pada dada, lekas lelah, dan berkeringat pada malam hari. "Jadi, ada sakit pendahulunya yang menjadi pemicu," imbuh dia.

Raja mengatakan gagal jantung bersifat progresif. Artinya, akan terus memburuk meski sudah mendapat penanganan medis.

"Pasien gagal jantung tidak bisa sembuh. Pengobatan di rumah sakit 'hanya' mengupayakan agar kondisinya lebih kondusif, misalnya sesak napas berkurang karena beban akibat menumpuknya cairan tubuh kita kurangi, obatnya diatur, dan istirahat cukup," terang Raja.

Karena itu, para pasien penyakit jantung wajib menjalani pengobatan secara tuntas untuk mencegah gagal jantung. Selain itu, penting juga menjalani gaya hidup sehat dan melakukan upaya-upaya meningkatkan daya tahan tubuh, sebab adanya penyakit seperti flu, batuk, atau diare saja, bagi pasien penyakit jantung, akan semakin menambah beban kerja jantung.

(Baca: BVS, Teknologi Baru untuk Atasi Penyakit Jantung)


Kewajiban penerapan gaya hidup sehat itu, lanjut Raja, bersifat umum, bukan hanya untuk pasien penyakit jantung, sebab gaya hidup sehat juga berperan penting mencegah penyakit jantung koroner.

"Salah satu faktor penyebab meningkatnya jumlah penderita jantung koroner ialah gaya hidup dan pola makan tidak sehat."

Raja menyayangkan saat ini upaya pencegahan gagal jantung sepertinya belum berjalan maksimal, seperti yang terlihat di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita sebagai pusat rujukan nasional. Di sana, sebagian besar kunjungan rawat jalan dan rawat inap ialah pasien yang sudah masuk ke kondisi gagal jantung.

"Angka kematian akibat gagal jantung lebih tinggi daripada sakit kanker. Kalau sudah masuk ke tahap gagal jantung, yang bisa bertahan hanya 50%," kata Raja.

Transplantasi

Transplantasi jantung dapat menjadi upaya penanganan pada pasien gagal jantung. Di negara-negara maju, prosedur itu sudah dilakukan. Tapi menurut Raja, hingga saat ini, di Indonesia belum mungkin untuk melakukan prosedur tersebut, sebab terkendala masalah hukum.

"Dokternya mungkin bisa, tapi legalnya belum memungkinkan. Donor jantung selama ini di Indonesia belum ada," kata dia. Lebih lanjut, Raja mengatakan seharusnya seluruh RS di Indonesia memiliki pusat gagal jantung yang dapat mengakomodasi semua kepentingan pasien gagal jantung. Pasalnya, pasien gagal jantung sangat tergantung pada rumah sakit.

"Kalau pasien sesak dan mengalami nyeri dada, mereka dapat berkonsultasi melalui pusat gagal jantung tersebut, setiap RS seharusnya punya heart failure center yang bisa dihubungi pasien sakit jantung selama 24 jam," tukasnya.






(DEV)