Kacang Kenari Bantu Turunkan Risiko Diabetes Tipe 2

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 29 Jun 2018 15:33 WIB
studi kesehatan
Kacang Kenari Bantu Turunkan Risiko Diabetes Tipe 2
(Foto: The Health Site)

Jakarta: Sebuah penelitian menemukan bahwa konsumsi kacang kenari dapat menurunkan risiko diabetes tipe 2, dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi makanan tersebut.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa konsumsi kenari dua kali lipat (sekitar tiga sendok makan) dapat menurunkan risiko terkena penyakit diabetes senayak 47 persen. 

"Hubungan kuat antara konsumsi kenari dan penurunan prevalensi diabetes tipe 2 adalah pembenaran tambahan untuk memasukkan kenari dalam makanan. Penelitian lain menunjukkan bahwa kenari juga bermanfaat bagi fungsi kognitif dan kesehatan jantung," kata Lenore Arab dari University of California, Los Angeles (UCLA), dilansir dari The Health Site.

Penelitian tersebut mengamati 34.121 orang dewasa berusia 18-85 tahun yang ditanya tentang asupan makanan mereka dan apakah mereka telah didiagnosis menderita diabetes atau menggunakan obat untuk diabetes.

Para partisipan juga dinilai menggunakan pengukuran laboratorium umum untuk melihat kemungkinan diabetes, termasuk glukosa plasma puasa dan hemoglobin A1c.

Mereka yang melaporkan mengkonsumsi kenari menunjukkan risiko yang lebih rendah untuk diabetes tipe 2 dibandingkan dengan mereka yang tidak mengonsumsi kacang tersebut. Penelitian tersebut belum memperhitungkan usia, jenis kelamin, ras, pendidikan, indeks massa tubuh (IMT) dan jumlah aktivitas fisik.

Kenari kaya akan lemak tak jenuh ganda (13 gram per ons) dan satu-satunya kacang yang mengandung sejumlah besar asam alfa-linolenat (ALA) dan asam lemak omega-3 nabati (2,5 gram per satu ons). Makanan ini juga mengandung protein (4 gram per satu ons) dan serat (2 gram per satu ons).

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa mengonsumsi setengah cangkir kenari per hari dapat membantu melindungi sistem pencernaan dengan meningkatkan jumlah bakteri probiotik dalam usus dan menangkal risiko penyakit jantung dan otak serta kanker.




(DEV)