Kasus Anak SD Pakai Vape, Pemerintah Diminta Segera Turun Tangan

Sri Yanti Nainggolan    •    Sabtu, 28 Oct 2017 22:12 WIB
kesehatan anak
Kasus Anak SD Pakai Vape, Pemerintah Diminta Segera Turun Tangan
Kasus Anak SD Pakai Vape, Pemerintah Diminta Turun Tangan (Foto: istock)

Metrotvnews.com, Jakarta: Beredarnya video siswa Sekolah Dasar (SD) di Trenggalek, Jawa Timur yang tengah menghisap rokok elektronik atau vape menunjukkan bahwa akses dalam membeli alat tersebut tidak ketat sehingga anak-anak bisa menggunakannya.
 
Hal tersebut semakin menunjukkan betapa pentingnya pemerintah untuk memperhatikan permasalahan produk tembakau alternatif.
 
“Kami sangat setuju bahwa harus ada pembatasan-pembatasan dari pemerintah terkait penggunaan produk tembakau alternatif, termasuk vape. Salah satunya, pembatasan mengenai penggunaan untuk anak di bawah umur ini," ujar Prof. Dr. Achmad Syawqie Yazid, Drg., M.S, Ketua Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik Indonesia (YPKP Indonesia) dalam sebuah pernyataan yang diterima Metrotvnews.com, Sabtu (28/10/2017).

Menurutnya, bila tidak ada peraturan, maka akan sulit menekan penggunaan yang tidak tepat seperti ini.
 
Padahal, penggunaan produk tembakau alternatif terutama vape mulai menimbulkan pro-kontra di kalangan masyarakat karena belum adanya regulasi yang mengatur produksi maupun penggunaan komoditas tersebut.

Peran pemerintah sebagai regulator, tentunya dibutuhkan untuk mengatasi pro-kontra tersebut.

Ia menambahkan, dalam merumuskan kebijakan terkait vape, pemerintah perlu banyak mengkaji fakta serta belajar dari negara maju yang telah terlebih dahulu berkutat dengan topik ini. Sehingga, regulasi yang nantinya dibuat bisa tepat sasaran dan tepat guna.
 
Dr. Amaliya, peneliti dari YPKP Indonesia juga menjelaskan bahwa inovasi memang selalu membawa pro dan kontra di masyarakat. "Selayaknya disrupsi teknologi, kehadiran produk tembakau alternatif ini memang harus benar-benar dipelajari dan diteliti. Sebab, sudah banyak contoh di negara-negara maju lain di mana produk tembakau altrenatif menjadi solusi menekan angka perokok."

Ini artinya, ia melanjutkan, juga menekan risiko kesehatan secara signifikan dan menurunkan prevalensi angka kematian.
 
Berbagai riset terdahulu memang sudah menyebutkan bahwa produk tembakau alternatif dapat menurunkan risiko kesehatan secara signifikan dibandingkan produk tembakau yang dikonsumsi dengan cara dibakar.

Pada 2015, agensi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan Inggris Raya Public Health England (PHE) merilis hasil riset yang mengutarakan bahwa produk nikotin yang dipanaskan seperti rokok elektrik menurunkan risiko hingga 95 persen dari produk tembakau yang dikonsumsi dengan dibakar.
 
"Pengaturan dari pemerintah ini sifatnya sudah urgen. Yang penting, jangan sampai regulasi menghalangi inovasi. Sebab inovasi ini berkaitan dengan kesehatan jutaan jiwa masyarakat Indonesia," pungkas Syawqie.





 


(ELG)