Studi: Bayi Autisme Memiliki Kadar Logam Lebih Rendah Daripada Bayi Normal

Sri Yanti Nainggolan    •    Senin, 05 Jun 2017 08:00 WIB
autisme
Studi: Bayi Autisme Memiliki Kadar Logam Lebih Rendah Daripada Bayi Normal
Sebuah studi menemukan bahwa gigi bayi autisme mengandung timbal yang lebih beracun dan sedikit nutrisi penting seperti besi dan mangan dibandingkan dengan gigi bayi normal. (Foto: thehealthsite.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah studi menemukan bahwa gigi bayi autisme mengandung timbal yang lebih beracun dan sedikit nutrisi penting seperti besi dan mangan dibandingkan dengan gigi bayi normal. 

Studi tersebut menunjukkan bahwa anak autisme memiliki tingkat timbal yang lebih tinggi selama pertumbuhan dan tingkat mangan yang lebih rendah, baik sebelum dan sesudah kelahiran. 

Kadar besi yang lebih rendah telah diobservasi saat masih berada dalam janin, namun kadarnya semakin meningkat setelah melahirkan. 



Penemuan yang dipublikasi dalam jurnal Nature Communications tersebut menemukan adanya perbedaan paparan awal pada metal dan bagaimana tubuh bayi memproses hal tersebut, yang kemungkinan mempengaruhi risiko autisme. 

Autisme adalah kondisi dimana gen dan lingkungan turut berperan, namun mengetahui jenis paparan lingkungan seperti apa yang meningkatkan risiko tersebut cukup sulit. 

(Baca juga: Kenali Gejala Autisme pada Anak)

Metode menggunakan gigi bayi untuk mengukur paparan sebelumnya pada metal juga bisa dijadikan tinjauan untuk jenis penyakit lain, seperti Attention Deficit Hyperactyvity Disorder (ADHD) atau hiperaktif. 

"Ada semacam antusiasme tentang potensi gigi bayi sebagai catatan terkait paparan di awal kehidupan anak yang bisa jadi faktor yang membantu atau merugikan pada lingkungan," ujar David Balshaw, dari Institut Nasional Ilmu Kesehatan Lingkungan (NIEHS), di bawah Institut Kesehatan Nasional.

Ia menjelaskan, penelitian tersebut percaya bahwa autisme dimulai pada tahap yang sangat dini, kemungkinan dalam janin, dan lingkungan dapat meningkatkan risiko tersebut. 



Namun saat diagnosa tersebut ditemukan saat anak berusia 3 atau 4 tahun, maka sulit untuk mengetahui apa saja paparan yang diberikan. Dengan melihat pada gigi bayi, para peneliti bisa melihat jenis paparan tersebut. 

Penelitian tersebut dilakukan dengan cara membandingkan jenis logam pada gigi 32 pasang kembar dan 12 kembar individu. 







(TIN)