Solusi bagi Anak Alergi Susu Sapi

   •    Rabu, 07 Jun 2017 17:57 WIB
kesehatan
Solusi bagi Anak Alergi Susu Sapi
(Foto: Pinterest)

Metrotvnews.com, Jakarta: Alergi susu sapi pada bayi dan anak kerap menjadi problem yang menyulitkan para orangtua. Pasalnya, susu sapi merupakan salah satu sumber gizi yang lengkap dan praktis untuk mendukung tumbuh kembang bayi. Ketika anak tak dapat mengonsumsi susu sapi karena alergi, tentu menjadi dilema.

Menurut dokter konsultan alergi imunologi anak Zakiudin Munasir, alergi susu sapi memang memerlukan penanganan tepat. Jika tidak, reaksi alergi yang timbul pada bayi bisa mengganggu kenyamanan si kecil. Reaksi itu antara lain, timbulnya ruam dan gatal pada kulit, bersin-bersin, tenggorokan gatal, dan napas berbunyi 'grok-grok' atau mengi, serta gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare.

"Dalam penanganan alergi, yang terpenting ialah menghindari pencetusnya. Kalau dipastikan si anak alergi susu sapi, ia harus menghindari susu sapi dan produk-produk turunannya," ujar dokter spesialis anak itu pada acara Morinaga Platinum Kids Olympics 2017 yang digelar Kalbe Nutritionals, di Jakarta, pertengahan Mei lalu.

Sebagai alternatif solusi, lanjutnya, bayi dapat mengonsumsi susu yang telah diformulasikan secara khusus. Seperti susu dengan protein yang telah dihidrolisis, susu asam amino, atau susu soya (kedelai).

"Susu sapi memiliki melekul protein berantai panjang yang sulit dicerna oleh anak yang alergi susu sapi. Dengan dihidrolisis, rantai melekul protein yang panjang itu dipotong-potong sehingga lebih mudah dicerna untuk menghindari timbulnya reaksi alergi," terang Zakiudin.

Penggunaan susu formulasi khusus itu juga berlaku untuk bayi newborn. Memang, bayi baru lahir hingga usia 6 bulan idealnya hanya diberi air susu ibu (ASI). Namun, dalam kondisi tertentu yang membuat ibu tidak dapat memberikan ASI, bayi yang alergi susu sapi bisa diberi susu dengan formulasi khusus itu.

Zakiudin mengingatkan, anak dari orangtua yang memiliki alergi berisiko lebih besar untuk mengalami alergi. Jadi, harus lebih waspada dan menyiapkan antisipasinya. Namun, orangtua yang tidak memiliki alergi pun perlu waspada karena anak tetap berpotensi mengalami alergi walaupun potensi itu lebih kecil.

"Berdasarkan penelitian, jika kedua orangtua tidak memiliki alergi, risiko alergi yang bisa dialami anak hanya sebesar 5% sampai 15%. Jika dalam keluarga memiliki satu saudara kandung yang positif alergi, risiko alergi yang diturunkan sekitar 25% sampai 30%.

"Jika salah satu orangtua memiliki alergi, terang Zakiudin, risiko alergi yang diturunkan sebesar 20% sampai 40%. Jika kedua orangtua memiliki riwayat alergi, risiko alergi yang diturunkan sebesar 40% sampai 60%. "Risiko tersebut meningkat hingga 80% bila kedua orangtua mengalami gejala alergi yang sama," katanya. Ketika mencurigai anaknya mengalami alergi, orangtua disarankan untuk berkonsultasi ke dokter. (MI)


(DEV)