Studi: Memiliki Teman Dekat Lebih Membahagiakan daripada Menjadi Terkenal

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 25 Aug 2017 15:50 WIB
psikologi anak
Studi: Memiliki Teman Dekat Lebih Membahagiakan daripada Menjadi Terkenal
Meskipun membangun pertemanan adalah hal yang penting, laporan Time menunjukkan bahwa kebanyakan orang mengalami lebih sedikit dari ikatan intim ini. (Foto: Kendra Kamp/Unsplash.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menjadi populer tak selalu membuat Anda lebih bahagia. Sebuah penelitian menemukan bahwa, bagi remaja memiliki teman dekat adalah indikasi yang lebih baik dalam menentukan kebahagiaan ke depannya. 

Studi yang melibatkan 160 remaja tersebut dilakukan selama 10 tahun, saat partisipan berusia 15 hingga 25 tahun. Sampel tersebut terdiri dari 58 persen kaukasian, 29 persen Amerika-Afrika, dan 8 persen ras campuran dengan pendapatan keluarga sekitar USD 40.000-59.000. 

Setiap tahun, para remaja menjawab pertanyaan tentang pertemanan yang mereka alami melalui beberapa wawancara dengan para peneliti untuk melihat tingkat rasa cemas, isu sosial, harga diri, dan depresi. Taman dekat para partisipan juga diwawancara. 



Para peneliti mendefinisikan pertemanan yang erat sebagai pendukung dengan menampilkan keterikatan, yang membuat mereka lebih intim daripada jenis hubungan lainnya.

Untuk melihat apakah sebuah pertemanan memiliki kualitas yang lebih tinggi, peneliti berbicara pada teman dekat partisipan saat berusia 15 tahun. Para peneliti melihat seberapa populer partisipan dari jumlah teman sebaya yang mengatakan bahwa partisipan menikmati waktu yang dihabiskan bersama partisipan dan bagaimana posisi mereka dalam kelompok kecil.

(Baca juga: Studi: Depresi pada Remaja Perempuan dan Laki-laki Tak Sama)

Mereka menemukan bahwa anak muda yang cenderung menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman dekat saat berusia 15 tahun mengalami rasa cemas lebih rendah, memiliki harga diri lebih tinggi, dan memiliki gejala depresi lebih sedikit saat mereka berusia 25 tahun. 

Sementara remaja yang terkenal di bangku sekolah menengah memiliki tingkat depresi yang lebih besar saat berusia 25 tahun. 

Para peneliti percaya bahwa mengembangkan pertemanan yang erat membantu orang merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri, karena hal tersebut termasuk dalam fase pembentukan indentitas mereka. Pertemanan tersebut membantu remaja mendapatkan dukungan dan memberikan mereka kesempatan untuk memberikan dukungan pada orang lain juga. 

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa tak mudah bagi orang terkenal untuk memiliki teman dekat. Ketika remaja memiliki keduanya, mereka cenderung memiliki kepribadian yang berbeda ketika berhadapan dengan teman dekat atau kelompok mereka. 



"Studi kami menemukan bahwa membentuk pertemanan yang dekat kemungkinan adalah salah satu bagian terpenting dalam pengalaman sosial remaja," ujar Joseph Allen, Profesor Psikologi Hugh P. Kelly di University of Virginia, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

"Menjadi disukai oleh sekelompok besar orang tidak dapat mengganti pertemanan yang dalam dan mendukung. Pengalaman tersebut tetap ada bersama kita, melebihi apa yang akan terjadi nantinya."

Meskipun membangun pertemanan adalah hal yang penting, laporan Time menunjukkan bahwa kebanyakan orang mengalami lebih sedikit dari ikatan intim ini. Menurut majalah tersebut, survei tahun 1985 menunjukkan bahwa satu orang setidaknya memiliki tiga teman dekat. Pada tahun 2004, kebanyakan orang mengaku tak memiliki teman dekat.











(TIN)