Gemuk Pasca Menopause Tingkatkan Risiko Kanker Payudara

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 19 May 2017 11:56 WIB
kanker payudara
Gemuk Pasca Menopause Tingkatkan Risiko Kanker Payudara
Sebuah studi menemukan bahwa wanita menurunkan lemak tubuh secara keseluruhan pasca menopause, bukan hanya pada bagian perut, dapat menurunkan risiko terkena kanker payudara. (Foto: Replens)

Metrotvnews.com, Jakarta: Tak peduli berapapun  usia Anda, menjaga keseimbangan berat badan adalah hal penting. Sebuah studi menemukan bahwa wanita menurunkan lemak tubuh secara keseluruhan pasca menopause, bukan hanya pada bagian perut, dapat menurunkan risiko terkena kanker payudara.

Studi yang dipublikasukan dalam jurnal Endocrine-Related Cancer tersebut menemukan bahwa beberapa jenis penanda risiko kanker payudara dapat menurun pada wanita pasca menopause yang kehilangan lemak tubuh total.

Peningkatan penanda darah seperti hormon seks, testosteron, estrogen, leptin, dan faktor peradangan berkaitan dengan risiko kanker payudara.

(Baca juga: 5 Rahasia Sukses Menurunkan Berat Badan)



Hasil penelitian tersebut menekankan pentingnya mengatur berat badan sehat yang dapat mempengaruhi rencana olahraga dan pola makan pada wanita gemuk.

Para peneliti dari University Medical Center Utrecht di Belanda tersebut menganalisa 243 wanita gemuk dan sudah menopause yang mengalami penurunan berat badan 5-6 kilogram dalam waktu 16 minggu.

Kadar darah dari penanda hormon seks, leptin, dan peradangan dibandingkan pada saat berat badan awal dan akhir. Selain itu, perubahan lemak tubuh dan lemak perut juga dilihat dengan menggunakan pemindaian sinar X dan MRI dasar.

Setelah 16 minggu, penurunan lemak tubuh total ternyata memberikan pengaruh pada perubahan tingkat penanda risiko kanker payudara, termasuk hormon seks dan leptin. Sementara, penurunan lemak perut berhubungan dengan penurunan pada penanda peradangan.

"Sudah diketahui bahwa lemak perut dapat meningkatkan risiko beberapa penyakit kronik, namun menurunkan lemak tubuh total juga tak kalah penting," tukas pemimpin studi Dr Evelyn Monninkhof.






(TIN)