Permainan Intelektual Perlambat Munculnya Demensia

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 01 Jun 2018 19:27 WIB
kesehatandemensia
Permainan Intelektual Perlambat Munculnya Demensia
Para peneliti menemukan bahwa risiko terkena demensia secara signifikan lebih rendah di antara orang-orang yang melaporkan melakukan kegiatan intelektual sehari-hari. (Foto: John Michael Thomson/Unsplash.com)

Jakarta: Sebuah penelitian bahwa kebiasaan membaca buku dan bermain permainan papan dapat memperlambat munculnya risiko demensia saat usia tua. 

Studi yang dipublikasi dalam jurnal JAMA Psychiatry tersebut meneliti 15.500 orang berusia di atas 65 tahun yang tinggal di Hong Kong selama lima tahun. 

Para partisipan tidak menderita demensia pada saat penelitian dimulai. Setelah lima tahun, sebanyak 1.300 orang mengalami gangguan tersebut. 

Di awal penelitian, para partisipan ditanyai seputar aktivitas intelektual yang telah mereka lakukan sebulan terakhir, seperti membaca buku, koran, atau majalah, bermain permainan papan atau kartu, atau berkuda. Kesehatan secara keseluruhan juga dinilai selama masa percobaan. 

Para peneliti menemukan bahwa risiko terkena demensia secara signifikan lebih rendah di antara orang-orang yang melaporkan melakukan kegiatan intelektual sehari-hari, dibandingkan dengan mereka yang jarang melakukannya atau tidak sama sekali.

Risiko yang lebih rendah ini tampaknya tidak tergantung pada intervensi lain, seperti makan sehat dan berolahraga teratur.


(Sebuah penelitian bahwa kebiasaan membaca buku dan bermain permainan papan dapat memperlambat munculnya risiko demensia saat usia tua. Foto: Annie Sprat/Unsplash.com)

(Baca juga: Dua Pola Hidup Sehat untuk Lawan Demensia)

"Mengingat populasi yang semakin tua di seluruh dunia, mempromosikan keterlibatan rutin dalam kegiatan intelektual dapat membantu menunda atau mencegah demensia," tulis para penulis penelitian.

Studi ini tidak menunjukkan bahwa kegiatan seperti membaca dan bermain gim pasti menyebabkan seseorang tak mengalami demensia. 

Dalam tanggapan editorial terhadap penelitian tersebut, dua ahli yang berafiliasi dengan Harvard, Dr Deborah Blacker dan Jennifer Weuve, justru berpikir sebaliknya: kurang berpartisipasi dalam kegiatan intelektual sebenarnya disebabkan oleh demensia.

Namun, para peneliti, Blacker dan Weuve berpendapat bahwa studi baru ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang menemukan koneksi serupa. Terlibat dalam kegiatan yang menantang mental, bahkan di kemudian hari, tampaknya bermanfaat.




(TIN)