Waspada Difteri di Masa Peralihan Musim

   •    Senin, 04 Dec 2017 11:04 WIB
penyakit menular
Waspada Difteri di Masa Peralihan Musim
Salah satu cara menangkal wabah penyakit difteri adalah dengan pemberian vaksin DT (difteri dan tetanus). (Foto: ANTARA/Seno S.)

Jakarta: Cuaca yang tak menentu membuat sejumlah daerah di Indonesia mengalami banjir, longsor, hingga angin puting beliung. Dampaknya, masyarakat yang menjadi korban bencana alam rentan terserang berbagai penyakit. Tak hanya flu atau gatal-gatal, gangguan kesehatan lain yang lebih berat seperti difteri pun menjadi ancaman.

Direktur Survailance dan Karantina Ditjen P2P Kementerian Kesehatan Elizabeth Jane Soepardi mengatakan wabah penyakit difteri di tengah ketidakpastian cuaca tidak bisa dianggap sepele. Sebab pada kasus yang paling berat dapat menyebabkan kematian.

"Infeksi dari bakteri difteri bisa menyebabkan penutupan jalan napas karena kelenjar di sekitar lehernya membengkak. Bakteri difteri juga menghasilkan racun yang bisa masuk ke jantung dan saraf yang dapat menyebabkan kematian," ungkap Elizabeth, dalam Metro Pagi Primetime, Jumat 1 Desember 2017.

Gejala penyakit difteri hampir mirip dengan sakit pada umumnya; demam, sakit tenggorokan dan suara serak, sulit bernapas, lemas, dan pilek. Namun yang paling khas dan menjadi satu-satunya indikator bahwa seseorang terkena infeksi bakteri difteri adalah adanya membran atau lapisan tipis yang menutupi tenggorokan.

Elizabeth menyebut pasien yang diduga terinfeksi bakteri difteri harus diperiksa dengan seksama. Sebab munculnya membran tipis yang menutup tenggorokan meski terlihat secara kasat mata namun perlu pengamatan seksama.

"Tenaga kesehatan harus mencari di dalam tenggorokan tadi atau yang masuk ke hidung itu apakah ada semacam selaput kotor seperti keropeng yang kalau diangkat berdarah. Itu tanda khas dari difteri," kata Elizabeth.

Menurut Elizabeth, pada 2017 sedikitnya ada 591 kasus infeksi difteri yang dilaporkan oleh 20 provinsi. Angka kematian dari laporan tersebut sekitar 6 persen dari jumlah total kasus.

Salah satu pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan imunisasi Td atau tetanus difteri. Yang perlu diketahui, kata Elizabeth, difteri hanya menular dari manusia ke manusia.

Dia menyebut satu kali ditemukan kasus difteri, otoritas pemerintahan setempat harus segera mengambil tindakan. Satu yang paling utama adalah menetapkan kasus tersebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

"Begitu dicurigai itu difteri, kepala dinas kesehatan atau kepala daerah harus menempatkan Kejadian Luar Biasa (KLB). 1 orang (terkena), harus KLB," tegasnya.




(MEL)