Penggunaan Vapor Tingkatkan Kebiasaan Merokok pada Remaja Amerika

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 11 Nov 2016 11:53 WIB
studi kesehatan
Penggunaan Vapor Tingkatkan Kebiasaan Merokok pada Remaja Amerika
Sebuah studi di Amerika menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektrik atau vapor secara rutin cenderung membuat remaja menjadi perokok berat. (Foto: Images.medicaldaily)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah studi di Amerika menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektrik atau vapor secara rutin cenderung membuat remaja menjadi perokok berat.

Sekitar sepertiga remaja di AS menggunakan rokok elektrik sebagai usaha untuk berhenti merokok. Namun, akhir-akhir ini, hal tersebut diperdebatkan oleh para ilmuwan, apakah rokok elektrik membantu berhenti merokok atau hanya untuk berhenti mengonsumsi tembakau. 

Sebuah studi yang dipublikasi dalam jurnal JAMA mensurvei lebih dari 3 ribu remaja berusia 15 tahun di daerah Los Angeles County sebanyak dua kali, saat musim gugur 2014 dan musim semi 2015, menanyakan seberapa sering mereka merokok elektrik dan merokok tembakau sebulan yang lalu. 

Secara keseluruhan, prevalensi vapor dan merokok kecil. Namun, mereka yang lebih sering menggunakan vapor pada awal studi, lebih dari tiga hari menggunakan vapor pada bulan lalu, semula hanya 11,6 persen merokok setidaknya sehari dalam sebulan meningkat menjadi 19,9 persen lebih sering enam bulan kemudian. 

(Baca juga: Rokok Elektrik Sama Bahayanya dengan Rokok Biasa)

Sebaliknya, mereka yang tak menggunakan vapor pada awalnya, semula hanya 0,9 persen merokok biasa justru menurun menjadi 0,7 persen enam bulan kemudian. 

"Pada studi remaja penggunaan vapor yang lebih sering berkaitan dengan risiko peningkatan menjadi perokok berat," ujar Adam Leventhal dari University of Southern California dalam sebuah penelitian.

Trasnsisi dari rokok elektrik ke rokok biasa memberikan alasan perhatian tertentu dalam hal aturan pengendalian tembakau.

Sementara itu, menurut ahli lain, studi tak bisa membuktikan adanya hubungan kausal antara rokok elektrik dengan rokok tembakau. 

"Penelitian ini menyelidiki hipotesis awal. Dalam praktiknya, hampir tidak mungkin untuk menguji kebenaran hipotesis ini," ujar Paul Aveyard dari Universitas Oxford dalam sebuah pernyataan.






(TIN)