Trauma Masa Kecil Bisa Memicu Masalah Pencernaan Ketika Dewasa

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 08 Jun 2017 14:07 WIB
kesehatan pencernaan
Trauma Masa Kecil Bisa Memicu Masalah Pencernaan Ketika Dewasa
(Foto: Youtube)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah studi menemukan bahwa pengamalan traumatik di masa kecil, seperti depresi dan rasa cemas, dapat menyebabkan perubahan mikroba pada usus secara permanen. Dampaknya, masalah pencernaan akan semakin rentan dialami.

Studi yang dipublikasikan secara daring dalam jurnal Microbiome menunjukkan bahwa mereka yang menderita sindrom iritasi usus besar (IBS) dan memiliki riwayat traumatik saat kecil cenderung memiliki mikrobioma usus yang berbeda dibandingkan penderita IBS yang tidak mengalami riwayat trauma.

Selain itu, penderita IBS dengan riwayat trauma juga lebih lama sembuh.

Para peneliti berpendapat bahwa hubungan kedua disebebkan karena oleh adanya proses sensorik informasi yang berubah karena trauma yang dialami.

"Ada kemungkinan bahwa sinyal yang dikeluarkan usus dan mikroba dari otak seseorang dengan riwayat trauma masa kanak-kanak dapat menyebabkan perubahan seumur hidup pada mikrobiom usus," demikian menurut para peneliti.

Para peneliti dari UCLA tersebut mengumpulkan takaran perilaku dan klinis seperti sampel tinja dan gambar otak struktural dari 29 penderita IBS dewasa dan 23 orang sehat. Mereka menganalisa komposisi, kelimpahan, dan keragaman dari mikrobiota usus di kedua kelompok tersebut.

Hasilnya, terdapat perbedaan mikroba usus pada mereka yang menderita IBS dan tidak dimana penderita IBS cenderung mengalami depresi dan kecemasan.

Namun, yang lebih mengejutkan, terdapat perbedaan mencolok antara mereka yang memiliki trauma masa kecil dimana terjadi perubahan sensitivitas mikrobiota usus.

Mereka juga melihat bahwa mereka yang mengalami perubahan mikrobiom usus juga memiliki bentuk otak yang berbeda, namun belum ada bukti jelas terkait hal tersebut.

Menurut Mayo Clinic, IBS merupakan gangguan pencernaan yang bisa menyebabkan kram, sakit perut, kembung, gas, diare, dan konstipasi.

Tidak ada penyebab atau penyembuhan yang diketahui untuk kondisi tersebut, walaupun New York Magazine menyebutkan bahwa pengurangan stres dan kecemasan adalah salah satu cara mengatasi penyakit tersebut.


(DEV)