Alasan Trauma Emosional Dapat Menyebabkan Sakit Fisik

Raka Lestari    •    Rabu, 02 Jan 2019 20:19 WIB
psikologi
Alasan Trauma Emosional Dapat Menyebabkan Sakit Fisik
Gejala sindrom sakit hati diantaranya adalah sesak napas dan nyeri dada, yang sering disalahartikan sebagai serangan jantung. (Foto: Motoki Tonn/Unsplash.com)

Jakarta: Kehilangan orang yang dicintai atau putusnya hubungan sering dikaitkan dengan "sakit hati". Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa trauma emosional seperti itu dapat membuat seseorang sakit secara fisik.  

Penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal Circulation menemukan bahwa respons kekebalan tubuh itu sendiri dapat memainkan peran penting dalam kondisi tersebut.

Gejala sindrom sakit hati diantaranya adalah sesak napas dan nyeri dada, yang sering disalahartikan sebagai serangan jantung. Namun, tidak seperti serangan jantung, pasien tidak menderita penyumbatan arteri yang memasok darah ke jantung.

Penyebab sindrom sakit hati belum diketahui secara jelas tetapi sering kali merupakan akibat dari trauma emosional atau fisik yang hebat, yang diduga memicu respons kuat yang memengaruhi jaringan jantung.


(Saat ini belum ditemukan pengobatan untuk sindrom patah hati, atau Kardiomiopati Takotsubo. Foto: Steven Stessov/Unsplash.com)

(Baca juga: Kondisi Fisik Saat Patah Hati Mirip Serangan Jantung)

"Kami menemukan bahwa sindrom sakit hati atau patah hati memicu gangguan dalam sistem kekebalan tubuh yang mengakibatkan peradangan akut pada otot jantung."

"Otot jantung kemudian mengirimkan sinyal peradangan yang beredar di seluruh tubuh," kata ketua peneliti studi, Dana Dawson, Profesor di University of Aberdeen di Skotlandia.

Saat ini belum ditemukan pengobatan untuk sindrom patah hati, atau Kardiomiopati Takotsubo.

"Takotsubo cardiomyopathy adalah kondisi serius yang disebabkan oleh stres yang memengaruhi sebagian besar wanita dan dapat menyebabkan kerusakan dan jaringan parut pada otot jantung. Meskipun memang, masih perlu penelitian lebih lanjut mengenai ilmu yang mendasarinya," kata Profesor Metin Avkiran, Direktur Medis Associate di British Heart Foundation.




(TIN)