Ingin Kualitas Tidur Lebih Baik? Buka Jendela Kamar Anda

Anggi Tondi Martaon    •    Kamis, 30 Nov 2017 13:57 WIB
Ingin Kualitas Tidur Lebih Baik? Buka Jendela Kamar Anda
Dr Steven Feinsilver, seorang ahli tidur Amerika mengatakan bahwa lingkungan dan udara pada malam hari sangat memengaruhi kualitas tidur. (Foto: Krista McPhee/Unsplash.com)

Jakarta: Membuka jendela bisa menjadi salah satu cara yang dilakukan untuk mendapatkan kualitas tidur yang baik. Sebab, dapat menambah pasokan oksigen di kamar saat tidur. Mungkin tidak terlalu besar membukanya, namun hal tersebut cukup signifikan.

Hal itu merupakan sebuah hasil riset studi yang dilakukan oleh penelitian di Belanda. Tim peneliti menggunakan metode berteknologi tinggi untuk melacak kualitas tidur 17 relawan selama lima malam.

Hasilnya, beberapa responden yang tidur dengan jendela terbuka lebih memiliki kualitas tidurnya ketimbang yang tidak. Sebab, kadar karbondioksida pada kamar yang terbuka lebih sedikit di kamar yang jendelanya terbuka.


(Kadar karbondioksida pada kamar yang terbuka lebih sedikit di kamar yang jendelanya terbuka. Foto: Nik Lanús/Unsplash.com)

"Tingkat karbon dioksida yang lebih rendah (di kamar tidur) menyiratkan kedalaman tidur lebih baik, efisiensi tidur, dan jumlah terbangun yang lebih sedikit," kata Asit Kumar Mishra, pemimpin tim peneliti dari Eindhoven University of Technology dalam laporanya yang diterbitkan di jurnal Indoor Air.

Menanggapi hasil penelitian tersebut, Dr Steven Feinsilver, seorang ahli tidur Amerika mengatakan bahwa lingkungan dan udara pada malam hari sangat memengaruhi kualitas tidur. 

(Baca juga: 3 Langkah Agar Lebih Mudah Tidur)

"Penelitian ini mengingatkan kita bahwa semua kamar tidur tidak sama, dan kualitas tidur kita tentu dipengaruhi oleh sifat fisik lingkungan kita di malam hari," kata Feinsilver. 

Meski hubungan antara tidur dengan lingkungan dan udara lama diketahui, namun hal itu belum mendapatkan perhatian dari masyarakat. "Masalah kualitas udara dalam ruangan karena hal itu mungkin berhubungan dengan kualitas tidur bukanlah sesuatu yang mendapat banyak perhatian," terang Feinsilver. 


(Masalah kualitas udara dalam ruangan karena hal itu mungkin berhubungan dengan kualitas tidur. Foto: Benjamin Combs/Unsplash.com)

Oleh karenanya, dia menyarankan agar hasil penelitian ini bisa diterapkan oleh orang yang mengalami gangguan tidur. Selain itu, penelitian lebih dalam juga dibutuhkan agar teori ini bisa diterima dengan baik oleh masyarakat.

"Para penulis tidak dapat menggunakan langkah-langkah tidur yang paling sensitif, dan pengujian tidur formal termasuk EEG (gelombang otak) mungkin lebih terbuka dalam kondisi ini," katanya.








(TIN)