Metode Baru Pendeteksian Sel Kanker

Raka Lestari    •    Senin, 02 Oct 2017 13:35 WIB
kanker
Metode Baru Pendeteksian Sel Kanker
Penemuan chip terbaru dengan bentuk labirin yang diklaim dapat mendeteksi sel kanker langka dan agresif dalam darah. (Foto: Joseph Xu, Michigan Engineering Communications & Marketing/Sciencealert.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Penemuan chip terbaru dengan bentuk labirin yang diklaim dapat mendeteksi sel kanker langka dan agresif dalam darah, dikembangkan untuk membantu dokter mengantisipasi perkembangan tumor dan membantu menentukan perawatan khusus untuk pasien mereka. 

Dengan pengendalian darah melalui chip berbentuk labirin mikro ini, alat tersebut mampu memisahkan jenis-jenis sel kanker, termasuk sel kanker dan sel punca kanker yang diketahui sangat ganas dan resisten terhadap obat-obatan. 

Menurut tim peneliti dari University of Michigan, sel kanker tersebut bisa saja berada diantara miliaran sel darah normal dan metode baru ini lebih efektif dan lebih cepat daripada teknik yang ada saat ini dalam menemukan sel kanker dalam tubuh. 



"Anda tidak bisa meletakkan hanya sebuah kotak saja di sekitar sel-sel ini," ujar pemimpin dari tim peneliti Sunitha Nagrath."Gejala yang terlihat sangat kompleks, tidak ada satu gejala yang bisa ditargetkan dalam satu fase pengobatan."

(Baca juga: Tes Genom Berpotensi Sembuhkan Kanker Payudara)

Sel-sel kanker ini kadang terlepas dari kanker atau tumor di dalam tubuh, mengambang bebas di aliran darah, dan mereka dapat menunjukkan tentang pertumbuhan sel kanker, jika sel-sel tersebut dapat tertangkap. 

Sel-sel tersebut kadang juga dapat berubah menjadi sel induk kanker (CSC), jenis sel yang bisa tumbuh dan memberi makan sel tumor baru. Ini karena CSC sangat cair dan berubah-ubah sehingga sulit dikenali dengan metode normal, yang biasanya mencari protein yang terindikasi sel kanker. 



Yang desain labirin ini lakukan adalah mendorong sel-sel yang lebih besar (kanker) ke depan melalui kurva sementara sel-sel kecil (biasa) menempel di dinding.

Teknik baru ini juga digunakan dalam uji coba klinis kanker payudara, menyelidiki keefektifan pengobatan yang menghambat molekul pemberian sinyal kekebalan yang disebut interlekuin 6. 

"Kami berpikir bahwa ini mungkin cara untuk memantau pasien dalam uji klinis," ujar salah satu tim peneliti, Max Wicha. 









(TIN)