Studi: Polusi Udara Dapat Membuat Kualitas Sperma Menurun

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 23 Nov 2017 15:51 WIB
Studi: Polusi Udara Dapat Membuat Kualitas Sperma Menurun
Para peneliti mengharapkan adanya strategi global untuk meminimalkan dampak polusi udara terhadap kesehatan reproduksi. (Foto: Alex Gindin/Unsplash.com)

Jakarta: Sebuah studi menyebutkan bahwa pria yang terpapar polusi udara secara rutin kemungkinan mengalami risiko lebih besar untuk menghasilkan sperma dengan kualitas yang buruk. 

Beberapa penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa peningkatan paparan partikel halus (PM2.5) dapat menurunkan pertumbuhan memori kerja pada anak-anak, stroke, dan memicu timbulnya masalah pernapasan, ginjal, kandung kemih, dan kanker kolorektal. 

Definisi dari partikel halus sendiri adalah partikel yang memiliki diameter 2,5 mikrometer atau kurang.

Studi yang dilakukan oleh Chinese University of Hong Kong tersebut menemukan adanya hubungan yang kuat antara paparan PM2.5 dengan bentuk sperma yang tak normal. 

Untuk setiap lima mikrogram per meter kubik udara atau kenaikan μg / m3 di PM2.5 dalam dua tahun, rata-rata penurunan bentuk dan ukuran sperma 1,29 persen.


(Studi yang dilakukan oleh Chinese University of Hong Kong tersebut menemukan adanya hubungan yang kuat antara paparan PM2.5 dengan bentuk sperma yang tak normal. Foto: Veeterzy/Unsplash.com)

Sementara, bila peningkatan risiko terpapar polusi udara mencapai 26 persen, maka akan terjadi perubahan bentuk dan ukuran sprema sebesar 10 persen. 

Namun, jika peningkatan jumlah produksi sperma yang signifikan juga diperhitungkan, maka akan ada mekanisme kompensasi untuk melawan efek merugikan tersebut. 

(Baca juga: Bagaimana Polusi Udara Merusak Mata)

"Meskipun estimasi efeknya kecil dan signifikansinya dapat diabaikan dalam situasi klinis, ini adalah tantangan kesehatan masyarakat yang penting," tukas peneliti Xiang Qian Lao. 

"Mengingat adanya paparan terhadap polusi udara, ada kemungkinan efek kecil PM2.5 terhadap morfologi normal sperma dapat menyebabkan sejumlah besar pasangan mengalami ketidaksuburan," Lao memeringatkan.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Occupational and Environmental Medicine tersebut meneliti hampir 6.500 pria berusia 15-49 tahun di Taiwan.

Para peneliti mengharapkan adanya strategi global untuk meminimalkan dampak polusi udara terhadap kesehatan reproduksi.








(TIN)