Mengenal Alergi Sperma

Yatin Suleha    •    Selasa, 04 Oct 2016 08:00 WIB
kesehatan dan produktivitas
Mengenal Alergi Sperma
Jangan khawatir, alergi sperma bukan merupakan penyebab langsung infertilitas (kesulitan hamil). (Foto: Rccgovercome)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pernahkah Anda mendengar tentang seseorang yang alergi pada sperma? Ternyata hal ini benar adanya. 

Reaksi Tubuh Terhadap Alergen
Dr. Dwirani Amelia, Sp.OG, dari Rumah Sakit Budi Kemuliaan, Jakarta mengatakan bahwa istilah alergi sperma akhir-akhir ini cukup sering kita dengar. Jika ditinjau dari arti katanya, maka alergi adalah respon tubuh yang timbul akibat sistem pertahanan tubuh yang bereaksi terhadap suatu zat yang disebut sebagai alergen. 

Alergen dapat berupa apapun, sebagian besar berasal dari luar tubuh dan sebagian berasal justru dari dalam tubuh manusia sendiri. Istilah “alergi sperma” seolah-olah menempatkan “sperma sebagai alergen, akan tetapi ternyata bukan sperma yang menjadi alergen dalam kondisi ini, melainkan protein semen atau seminal plasma (yaitu cairan yang dihasilkan oleh kelenjar gonad laki-laki yang berfungsi sebagai kendaraan dari sel-sel sperma ketika dikeluarkan dari salurannya) yang kaya protein-lah yang berperan sebagai antigen. 

Sesungguhnya alergi sperma adalah kejadian yang jarang, meskipun kemungkinan untuk ‘under-diagnose’ (tidak terdiagnosis) cukup besar mengingat gejalanya yang tidak khas.

(Baca juga: Pentingnya USG Sebelum Usia Kehamilan 13 Minggu)

Gejala yang Ditimbulkan
Gejalanya timbul umumnya pada perempuan. Dimana setelah melakukan hubungan seksual perempuan merasakan gatal hingga nyeri, rasa terbakar disertai kemerahan, pembengkakan di daerah vagina. Gejala-gejala ini biasanya muncul sekitar 10-30 menit setelah kontak dengan cairan semen. 

Karena semen sebagai alergen, maka reaksi alergi dapat pula timbul di daerah lain yang terkena cairan ini seperti kulit, dan sekitar bibir atau mulut. Gejala dan tanda ini dapat bertahan hingga beberapa jam hingga beberapa hari. 

Kadang-kadang beberapa perempuan merasakan gejala yang lebih hebat, yang mengenai seluruh tubuhnya, sebagimana reaksi alergi pada umumnya bahkan hingga terjadi penyempitan saluran pernafasan yang dapat mengancam jiwa.

Gejala dan tanda ini bisanya tidak muncul ketika kali pertama melakukan sanggama, akan tetapi timbul setelah beberapa kali mengalami kontak dengan semen.


Penanganan Alergi Sperma
Karena alergennya bukan sel sperma, maka para pasutri tidak perlu takut kalau sampai-sampai tidak dapat hamil akibat alergi sperma ini. Bahkan beberapa ahli mengatakan bahwa alergi sperma BUKAN merupakan penyebab langsung infertilitas (kesulitan hamil).

Karena dasar kelainannya adalah reaksi alergi, maka terapi untuk mengatasi hal ini adalah dengan melakukan desensitisasi atau secara bertahap memberikan rangsang alergi secara bertahap dengan takaran alergen kecil hingga tahap takaran alergen normal. 

Hal ini dapat dilakukan dengan bantuan dokter dengan 2 cara:

1. Dengan menyuntikan protein semen kepada pasangan dengan dosis kecil  dan meningkatkan dosisnya secara bertahap. 

2. Cara lainnya dikenal sebagai seminal challenge adalah dengan memasukan cairan semen suami yang telah diencerkan dengan takaran tertentu dan meningkatkan konsentrasi semennya secara bertahap dan meletakkannya di dalam vagina. 

Selanjutnya biasanya pasutri diminta untuk bersanggama setiap 48 jam untuk mempertahankan reaksi alergi tetap rendah. Dengan kata lain, melakukan sanggama dengan frekuensi yang lebih banyak, dapat secara alamiah menurunkan terjadinya reaksi alergi sperma yang ringan.





(TIN)