Benarkah Kebanyakan Tidur Pertanda Depresi?

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 06 Jun 2018 17:13 WIB
tips kesehatan
Benarkah Kebanyakan Tidur Pertanda Depresi?
(Foto: Shutterstock)

Jakarta: Sulit tidur seringkali dikaitkan dengan depresi. Begitu juga dengan terlalu banyak tidur. 
Sebuah studi yang dipublikasi dalam Public Library of Science (PLoS) tahun 2014 menemukan bahwa terlalu banyak tidur tidak berhubungan dengan penyakit kronik, tetapi bisa jadi pertanda gangguan psikiatrik atai indeks massa tubuh (IMT). 

Studi tersebut melibatan 24.671 partisipan berusia 15-85 tahun untuk melihat waktu tidur total dan membaginya ke dalam 'tukang tidur panjang’ dan ‘tukang tidur pendek’. 

Para dokter kemudian mengamati bahwa waktu tidur rata-rata di antara orang-orang ini sekitar 7 jam dan 13 menit dan hanya 612 atau 2,7 persen dari mereka tidur yang tidur lebih dari 10 jam sehari.

Sementara mereka yang tidur kurang dari 7 jam berada pada risiko penyakit kronis yang lebih tinggi, orang yang 'tidur panjang' lebih cenderung memiliki penyakit kejiwaan.

Faktanya, tidur panjang berkaitan dengan tingkat depresi yang lebih tinggi karena tingginya laporan yang berhubungan dengan peristiwa traumatis di masa lalu, yang para peneliti definisikan sebagai keluhan depresi.

Depresi juga bisa dikaitkan dengan dysania, dimana seseorang tetap di tempat tidur namun tak tidur. Selain depresi, jika Anda merasa mengantuk sepanjang waktu, itu bisa menjadi hipersomnia.

Tidur memainkan peran penting dalam proses kognitif dan psikologis dan pola tidur dapat menunjukkan bagaimana kesehatan dan kesejahteraan umum seseorang. 





(DEV)