Cuitan Larut Malam Sebabkan Penurunan Produktivitas Pekerjaan?

Dhaifurrakhman Abas    •    Jumat, 04 Jan 2019 11:53 WIB
kesehatan
Cuitan Larut Malam Sebabkan Penurunan Produktivitas Pekerjaan?
Menurut studi yang dipublikasikan jurnal Sleep Health kurangnya waktu tidur ternyata berpengaruh terhadap produktivitas para atlet. (Foto: Isaiah Rustad/Unsplash.com)

Jakarta: Kurang tidur seringkali membuat kita menjadi tak bergairah menjalani hari. Beberapa studi menyebutkan kondisi ini bahkan bisa menurunkan produktivitas pekerjaan.

Namun apakah penurunan produktivitas tersebut terjadi pada seluruh jenis pekerjaan? Misalnya saja pekerjaan sebagai olahragawan atau atlet?

Menurut studi yang dipublikasikan jurnal Sleep Health kurangnya waktu tidur ternyata berpengaruh terhadap produktivitas para atlet. Dalam studi itu, para ilmuwan meneliti 112 bintang basket NBA yang memiliki kebiasaan memposting cuitan di twitter hingga larut malam.

"Kami kumpulkan postingan itu pada rentang periode 2009 hingga 2016. Dari situ kami dapatkan sebanyak 37.073 postingan para atlet NBA," kata seorang peneliti, seperti dilansir Huffpost.

Lantas puluhan ribu postingan tadi dipilah berdasarkan waktu postingan yang dilakukan para atlet NBA. Hasilnya, pebasket yang berkicau antara pukul 11 dan 7 pagi sebelum pertandingan, mengalami penuruanan performa ketika sedang bertanding.

(Baca juga: Kecanduan Gadget Bisa Mengganggu Mental)

http://news.metrotvnews.com/metro/yNLQl42b-kecanduan-gadget-bisa-mengganggu-mental


(Foto: Matthew LeJune/Unsplash.com)

"Mereka lebih sedikit melakukan gerakan rebound dan mencetak poin hingga turun 3,7 persen, ketimbang pemain lain yang tidak melakukannya."

Selain itu, pemain yang memiliki kebiasaan memosting hingga larut malam mengalami penurunan performa. Mereka lebih sering digantikan oleh pemain lainnya dalam setiap pertandingan basket.

Meski begitu, kebiasaan berkicau hingga larut membuat atlet jadi lebih sedikit melakukan pelanggaran setiap kali bertanding. Para peneliti beranggapan hal ini terjadi lantaran para atlet lebih sering duduk di bangku cadangan ketimbang berlaga di lapangan basket.

"Bermain twitter sampai larut malam membuat atlet rata-rata bermain dua menit lebih sedikit per pertandingan. Mungkin karena pelatih jadi sering mengistirahatkan pemain tersebut," tandasnya.

Namun, studi ini tak lantas lepas dari berbagai kritik. Pasalnya para peneiliti dianggap luput dalam membidik faktor-faktor lain yang barangkali bisa menjadi penyebab turunnya performa dan produktivitas pebasket. Misalnya stres ataupun cedera yang sedang mereka alami.




(TIN)