Studi: Pelecehan Seksual Non-fisik Tetap Berpengaruh pada Kesehatan Mental

Sri Yanti Nainggolan    •    Sabtu, 11 Nov 2017 21:13 WIB
pelecehan seksual
Studi: Pelecehan Seksual Non-fisik Tetap Berpengaruh pada Kesehatan Mental
Studi: Pelecehan Seksual Non-fisik Tetap Berpengaruh pada Kesehatan Mental (Foto: istock)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah studi menemukan bahwa segala bentuk pelecehan seksual, baik secara verbal maupun fisik, memiliki kekuatan untuk menimbulkan bahaya psikologis.

Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Public Health tersebut menemukan bahwa pelecehan seksual non-fisik dapat menimbulkan dampak psikologis yang berpotensi menimbulkan rasa cemas, depresi, citra tubuh negatif, dan menurunkan harga diri seseorang.

"Ini adalah asli karena orang biasanya tidak mempertimbangkan efek pelecehan non-fisik tanpa sejuamlah pelecehan fisik. Bahkan saat Anda mengendalikan [pemaksaan dan kekuatan fisik], Anda masih menemukan efek pada gejala mental karena pelecehan non-fisik," tukas Leif Edward Ottesen Kennair, seorang profesor psikologi di Norwegian University of Science and Technology.

Kennair dan para rekan kerjanya mengumpulkan data dari 3 ribu pelajar SMA di Norwegia yang dibagi dalam dua kelompok. Mereka diminta untuk mengisi survei tentang pengalaman terkait pelecehan seksual yang pernah dialami beberapa tahun terakhir dan bagaimana kesehatan mental mereka. Kelompok pertama ditanya pada tahun 2007 dan kelompok kedua pada tahun 2013 hingga 2014.

Berdasarkan jawaban mereka, yang mencerminkan satu sama lain, para peneliti menyimpulkan bahwa menjadi korban pelecehan seksual, baik fisik maupun non-fisik, dapat menimbulkan gejala depresi, rasa cemas, dan gangguan kesehatan mental lainnya.

Efek tersebut paling nyata pada pelajar perempuan, meskipun pelecehan terjadi pada kedua jenis kelamin. Sekitar 62 persen pelajar laki-laki dan perempuan mengaku mengalami pelecehan seksual non-fisik selama setahun terakhir.

"Perhatian seksual yang tak diinginkan kemungkinan adalah tekanan yang lebih besar pada wanita."

Semakin dilecehkan, kedua kelompok tersebut semakin mengalami gejala depresi. Namun, partisipan perempuan mengalami gejala depresi yang lebih besar dibandingkan partisipan laki-laki, meskipun keduanya mengalami pelecehan.

Para peneliti juga menemukan bahwa minoritas seksual dan pelajar dengan orang tua pengangguran mengalami bahaya psikologis lebih tinggi dalam hal pelecehan non-fisik karena faktor sosioekonomi turut berperan dalam kesejahteraan mental.

 


(ELG)