Studi: Pelecehan Seksual di Kantor Tingkatkan Rasa Cemas pada Wanita

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 22 Nov 2017 09:00 WIB
Studi: Pelecehan Seksual di Kantor Tingkatkan Rasa Cemas pada Wanita
Para peneliti menyarankan agar perusahaan lebih proaktif dalam membangun aturan yang berkaitan dengan pelarangan pelecehan seksual. (Foto: Maranatha Pizarras/Unsplash.com)

Jakarta: Sebuah studi menyebutkan bahwa wanita yang mengalami kekerasan seksual saat bekerja cenderung menderita cemas, depresi, gangguan makan, dan gangguan stres pasca trauma (PSTD).

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Occupational Health Psychology tersebut juga menunjukkam bahwa korban wanita lebih memilih mengalihkan masalah tersebut dengan minum alkohol atau obat-obatan daripada mengatasinya.

Meskipun lebih banyak menyerang wanita, peningkatan pelecehan seksual pada pria juga mengalami peningkatan lebih dari 15 persen dalam 15 tahun.

Hasil tersebut juga menemukan bahwa korban pria tidak mengalami rasa cemas atau menganggap pelecehan sebagai sesuatu yang mengganggu sehingga membuat mereka stres atau kesal.

"Bukti ini menunjukkan bahwa korban wanita juga mengalami suasana hati negatif, gangguan makan, ketergantungan alkohol dan obat-obatan yang berujung pada tak niat bekerja, cemas jangka panjang, stres bekerja, hingga kelelahan," tukas pemimpin studi Professor James Campbell Quick dari University of Texas di Austin, Amerika Serikat.


(Meskipun lebih banyak menyerang wanita, peningkatan pelecehan seksual pada pria juga mengalami peningkatan lebih dari 15 persen dalam 15 tahun. Foto: Ilustrasi. Dok. Pablo Varela/Unsplash.com)

Sebuah survei yang melibatkan 2.000 orang Inggris menunjukkan bahwa satu dari lima wanita dan satu dari tujuh pria mengungkapkan bahwa mereka pernah menjadi korban pelecehan seksual di tempat kerja.

(Baca juga: Tingkat Depresi Korban Pelecehan Seksual Sama pada Pria dan Wanita)

Dari data yang dianalisa, mereka menemukan terdapat penurunan angka komplain sebanyak 28,5 persen dari 1997 hingga 2011.

Quick menyatakan bahwa 15,3 persen dari hasil tersebut berasal dari pria dan wanita merupakan subyek yang paling sering mengajukan komplain.

Selanjutnya, penemuan tersebut juga menyebutkan bahwa pria di bidang militer 10 kali cenderung lebih mungkin mengalami pelecehan seksual dibanding kelompok sipil. Namun, 81 persen dari mereka tak melaporkannya.

Para peneliti menyarankan agar perusahaan lebih proaktif dalam membangun aturan yang berkaitan dengan pelarangan pelecehan seksual, meningkatkan kesadaran pegawai, meningkatkan prosedur pelaporan, dan mengedukasi pegawai tentang aturan tersebut. 









(TIN)