Studi: Penderita Tinnitus Sulit Mengistirahatkan Otak

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 30 Aug 2017 10:09 WIB
kesehatan
Studi: Penderita Tinnitus Sulit Mengistirahatkan Otak
Penelitian yang dipublikasi dalam jurnal NeuroImage: Clinical tersebut menyebutkan bahwa gangguan tinnitus dapat menimbulkan gangguan konsentrasi karena lebih berfokus pada dengung tersebut. (Foto: Palm Beach Sleep and Sinus)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah penelitian menemukan bahwa tinnitus, bunyi dengung kronik pada telinga, dapat menyebabkan perubahan jaringan tertentu pada otak. Akibatnya, otak menjadi lebih fokus dan kurang istirahat.

Penelitian yang dipublikasi dalam jurnal NeuroImage: Clinical tersebut menyebutkan bahwa gangguan tinnitus dapat menimbulkan gangguan konsentrasi karena lebih berfokus pada dengung tersebut dan tidak memperhatikan hal-hal lain.



"Tinnitus tidak terlihat dan tidak bisa diukur seperti diabetes atau hipertensi," ujar pemimpin studi Fatima Husain selaku Profesor dari University of Illinois di Urbana-Champaign, Amerika Serikat.

"Anda memiliki bunyi konstan ini dalam kepala, tapi orang lain tak bisa dengar dan tak percaya dengan Anda dan berpikir itu hanyalah imajinasi saja. Secara medis, kami hanya bisa mengatur gejala, bukan menyembuhkan, karena tak tahu apa penyebabnya."

Satu faktor yang membuat penelitian tinnitus menjadi rumit adalah adanya perubahan pada populasi pasien seperti durasi, penyebab, tingkat keparahan, bersamaan dengan kehilangan pendengaran, usia, tipe suara, jenis telinga, dan hal-hal lain membuat studi menjadi tak konsisten.

(Baca juga: Jangan Sembarangan Membersihkan Telinga)

Studi yang menggunakan MRI fungsional untuk melihat pola fungsi dan struktur otak tersebut menemukan bahwa tinnitus ada dalam bagian kepala yang disebut precuneus.

Precuneus menghubungkan dua jaringan dalam otak secara bolak-balik, yaitu jaringan fokus dorsal yang aktif saat sesuatu mengambil perhatian seseorang dan jaringan mode standar yang merupakan fungsi dasar otak ketika seseorang beristirahat dan tak berpikir.



Para peneliti menemukan bahwa precuneus lebih terkoneksi dengan jaringan fokus dorsal dan kurang terkoneksi dengan jaringan mode standar pada pasien tinnitus kronik. Ketika tingkat keparahan tinnitus meningkat, maka efek jaringan pada saraf pun demikian.

"Bagi pasien, ini memvalidasi. Inilah sesuatu yang berhubungan dengan tinnitus yang obyektif dan invarian," kata Husain. Hal tersebut juga menyiratkan bahwa pasien tinnitus tidak benar-benar beristirahat meski ketika sedang beristirahat. 











(TIN)