Gangguan Sleep Apnea Saat Muda Tingkatkan Risiko Hipertensi dan Diabetes

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 07 Jun 2017 12:56 WIB
sleep apnea
Gangguan Sleep Apnea Saat Muda Tingkatkan Risiko Hipertensi dan Diabetes
Penderita sleep apnea sedang memiliki risiko terkena diabetes tiga kali lipat lebih besar dibandingkan mereka yang tidak menderita gangguan tersebut. (Foto: Pinterest/m.youtube.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah penelitian menyebutkan bahwa orang dewasa muda yang mengalami obstructive sleep apnea (OSA), baik ringan maupun sedang, memiliki risiko terkena hipertensi dan diabetes lebih tinggi. 

OSA adalah penyakit kronik serius pada bagian pernapasan sehingga menyebabkan gangguan berulang saat tidur, seperti mendengkur dan mengantuk berlebih saat siang hari. 

Penemuan tersebut menunjukkan bahwa sleep apnea ringan dapat meningkatkan risiko hipertensi hingga empat kali lipat. 



Sementara, penderita sleep apnea sedang memiliki risiko terkena diabetes tiga kali lipat lebih besar dibandingkan mereka yang tidak menderita gangguan tersebut. 
 
"Penelitian yang menunjukkan adanya hubungan antara sleep apnea dengan metabolik tak normal pada kelompok usia tersebut memperkuat bukti bahwa kita harus mengawasi adanya gejala metabolisk dan melakukan intervensi melalui gaya hidup seperti kontrol berat badan, pola makan sehat, olahraga rutin, dan manajemen stres," ujar pemimpin studi Yun Li, peneliti doktoral di Pennsylvania State University.

(Baca juga: Sleep Apnea, Salah Satu Penyebab Kematian Saat Tidur)

Jika dibiarkan tak diobati, sleep apnea dapat menimbulkan berbagai macam penyakit seperti tekanan darah tinggi, stroke, gagal jantung, detak jantung tak normal, dan serangan jantung. 

"Deteksi dini dan pengobatan sleep apnea di tahap ringan hingga sedang dapat menjamin seseorang dari penyakit kardiometabolik di kemudian hari," tambah Li. 



Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Sleep tersebut melakukan penelitian kembar dengan mengambil sampel 1.741 orang dewasa. 

Para partisipan diminta menceritakan tentang riwayat medis secara mendetail sebagai dasar dimana kemudian mereka dievaluasi selama tidur di malam hari. Mereka yang tidak mengalami hipertensi dan diabetes saat awal percobaan diperiksa kembali sepuluh tahun kemudian. 





(TIN)