Pernikahan Bahagia Turunkan Risiko Obesitas saat Paruh Baya

Sri Yanti Nainggolan    •    Sabtu, 05 May 2018 20:10 WIB
pernikahanobesitas
Pernikahan Bahagia Turunkan Risiko Obesitas saat Paruh Baya
Pernikahan Bahagia Turunkan Risiko Obesitas saat Paruh Baya (Foto: istock)

Jakarta: Sebuah penelitian yang dipublikasi dalam jurnal Health Psychology menyebutkan bahwa pernikahan yang bahagia dapat mengurangi risiko bertambahnya berat badan saat berusia paruh baya.

"Studi ini menunjukkan bahwa hubungan pernikahan yang saling mendukung berhubungan dengan berat badan yang lebih sehat di usia paruh baya," kata peneliti Ying Chen, seorang rekan postdoctoral di departemen epidemiologi di Harvard T.H. Chan School of Public Health.

Para peneliti menanyai sekitar 2.650 orang yang telah menikah dalam jangka lama tentang tingkat dukungan dan halangan dalam pernikahan, untuk melihat kualitas kemitraan mereka.

Mereka menetapkan nilai-nilai numerik untuk hubungan mereka berdasarkan tanggapan ini, kemudian melacak kenaikan berat badan selama periode tindak lanjut hampir sembilan tahun.

Orang dengan tingkat kualitas pernikahan dan dukungan yang tinggi mengalami kemungkinan kenaikan berat badan lebih kecil dibandingkan pasangan yang tidak saling mendukung.

Untuk setiap satu kenaikan pada skala kualitas perkawinan, kebanyakan partisipan mengalami kenaikan berat badan sekitar tiga perempat pon selama periode tindak lanjut dan memiliki risiko obesitas 10 persen lebih rendah. Sementara, untuk setiap satu kenaikan pada skala dukungan, mereka memperoleh sekitar 1,5 kilogram lebih sedikit dan memiliki risiko 22 persen lebih rendah mengalami obesitas.

Hal tersebut kemungkinan terkait dengan manfaat kesehatan yang didokumentasikan dengan baik dalam bentuk dukungan sosial, yang dapat mendorong satu sama lain untuk menjalani perilaku hidup sehat dan menghindari kebiasaan buruk.

Menariknya, bagaimanapun, masalah pernikahan tampaknya tidak terlalu mempengaruhi kenaikan berat badan.

"Ada kemungkinan bahwa pasangan paruh baya telah tinggal dalam hubungan perkawinan untuk waktu yang lebih lama dan mungkin telah mengembangkan strategi yang efektif untuk mengatasi pengalaman perkawinan negatif," katanya.

Kemungkinan lain, lanjutnya, adalah karena penelitian tersebut hanya melibatkan peserta yang menikah atau dalam hubungan seperti pernikahan di usia pertengahan. Mereka yang dalam hubungan pernikahan yang penuh ketegangan mungkin telah mengakhiri pernikahan mereka di awal kehidupan dan dengan demikian tidak memenuhi syarat untuk penelitian.

Melihat secara khusus pada orang setengah baya juga dapat menjelaskan mengapa penelitian tersebut menemukan manfaat seputar berat badan yang berhubungan dengan pernikahan yang baik.

Beberapa studi sebelumnya menyebutkan bahwa pengantin baru cenderung mengalami kenaikan badan karena tak perlu khawatir untuk mencari pasangan.

Namun, orang berusia tua yang sudah menikah mungkin memiliki nilai yang berbeda dan memprioritaskan kesehatan di luar konteks penampilan fisik.


 


(ELG)