Studi: Milenial Benci dengan Istilah Penuaan

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 08 Jun 2018 13:00 WIB
psikologistudi kesehatan
Studi: Milenial Benci dengan Istilah Penuaan
The Royal Society for Public Health (RSPH) bekerja sama dengan Calouste Gulbenkian Foundation menerbitkan temuan mereka tentang bagaimana sikap masyarakat terhadap ageisme. (Foto: Alexis Brown/Unsplash.com)

Jakarta: Sebuah penelitian menemukan bahwa kaum milenial tak senang menua. Akibatnya, terjadi diskriminasi usia dan kesehatan yang lebih buruk saat menua. 

The Royal Society for Public Health (RSPH) bekerja sama dengan Calouste Gulbenkian Foundation menerbitkan temuan mereka tentang bagaimana sikap masyarakat terhadap ageisme.

Ageisme adalah prasangka atau diskriminasi atas dasar usia seseorang. Hal tersebut dapat bermanifestasi pada orang-orang dari usia muda dan menghasilkan perilaku diskriminatif terhadap orang yang lebih tua.

Laporan tersebut menemukan bahwa banyak orang memandang usia tua sebagai periode kemunduran dan cobaan, dengan 30 persen publik percaya bahwa kesepian hanya sesuatu yang terjadi ketika orang menjadi tua. Seperempat milenial percaya bahwa perasaan itu normal untuk orang yang lebih tua menjadi tidak bahagia dan tertekan.

RSPH juga menemukan bahwa dua dari lima milenium, yang berusia 18-34 tahun, percaya bahwa demensia adalah bagian penuaan yang tak terhindarkan.


(Sebuah penelitian menemukan bahwa kaum milenial tak senang menua. Akibatnya, terjadi diskriminasi usia dan kesehatan yang lebih buruk saat menua. Foto: Riccardo Mion/Unsplash.com)

Secara keseluruhan, penuaan adalah hal lazim bagi kaum milenial, generasi yang paling menganggap proses alami tersebut sebagai sesuatu yang negatif diantara generasi lainnya. 
Kesalahpahaman tentang penuaan ini secara inheren palsu tetapi meresap karena prevalensi keyakinan-keyakinan terkait usia yang sering dimulai pada usia muda.

Menurut laporan itu, ageisme bisa berakar sejak anak-anak semuda enam tahun, dan dapat diperkuat selama kehidupan.

Mereka yang percaya keyakinan tersebut cenderung menemukan diri mereka dalam ramalan tersebut ketika mulai menua. Akibatnya, pemikiran tersebut memengaruhi kesehatan. 

Penelitian tersebut menemukan bahwa mereka yang memiliki sikap negatif tentang bertambah tua hidup rata-rata tujuh setengah tahun lebih sedikit daripada mereka yang melihatnya dalam cahaya yang positif.

"Dampak kesehatan lain yang dihasilkan dari sikap negatif terhadap penuaan termasuk peningkatan kehilangan memori, risiko depresi dan kecemasan yang lebih tinggi, berkurangnya kemampuan untuk pulih dari penyakit, pelepasan perilaku yang sehat seperti diet dan olahraga, dan citra tubuh yang buruk," semikian menurut laopran tersebut. 

"Terlalu sering perilaku dan bahasa kuno diremehkan, diabaikan, atau bahkan disajikan sebagai lelucon, sesuatu yang benar-benar tidak akan kita toleransi dengan bentuk prasangka lain," tukas Shirley Cramer CBE, kepala eksekutif RSPH.

(Baca juga: Ini yang Diinginkan Generasi Milenial dalam Percintaan)

Ia melanjutkan, laporan tersebut menunjukkan bahwa sikap-sikap yang semakin meluas di masyarakat dan memiliki dampak besar terhadap kesehatan masyarakat, namun mereka jarang diperlakukan dengan keseriusan yang pantas mereka terima.

"Dengan semakin banyak orang mencapai usia yang lebih tua dari sebelumnya, penting untuk bertindak sekarang untuk mempromosikan integrasi positif di seluruh generasi.


(Studi menemukan bahwa dua dari lima milenium, yang berusia 18-34 tahun, percaya bahwa demensia adalah bagian penuaan yang tak terhindarkan. Foto: Awar Jahfar/Unsplash.com)

"Sungguh menggembirakan bahwa mayoritas masyarakat masih percaya bahwa, pada dasarnya, orang tua dan muda memiliki lebih banyak kesamaan daripada memisahkan mereka."

"Jika kita bisa mulai menghilangkan hambatan keras yang memperkuat sosialisme masyarakat, kita dapat mengharapkan lebih banyak lagi untuk menantikan masa depan sebagai periode kesempatan untuk pertumbuhan dan pengalaman baru, daripada serangkaian tantangan mental dan fisik."

Untuk memerangi hambatan usia dalam masyarakat, RSPH telah memulai beberapa kampanye untuk mengubah sikap publik terhadap orang yang lebih tua.

Salah satunya adalah panggilan untuk mengakhiri penggunaan istilah "anti-penuaan" di industri kosmetik dan kecantikan, yang ditemukan oleh RSPH sebagian bertanggung jawab atas tekanan yang dirasakan pria dan wanita untuk terlihat muda.

Ide-ide lain termasuk mengatasi usia di sekolah-sekolah dan memulai contoh di mana mereka yang dengan kesenjangan usia yang luas dapat bertemu.





(TIN)