Ini Perbedaan Antara Kesepian, Stres, dan Depresi

Kumara Anggita    •    Kamis, 07 Feb 2019 10:01 WIB
psikologi
Ini Perbedaan Antara Kesepian, Stres, dan Depresi
Kesepian dan stres merupakan gejala awal menuju depresi. (Foto: Greg Raines/Unsplash.com)

Jakarta: Perasaan tidak nyaman sering dengan mudahnya Anda interpretasikan sebagai depresi. Padahal bisa jadi yang Anda rasakan adalah stres atau bahkan kesepian. Berikut perbedaan antara tiga hal tersebut. 

Psikolog Klinis Dewasa, Cut Maghfirah Faisal, S.Psi, M.Psi, Psikolog, menyatakan bahwa stres dan kesepian memang berkaitan dengan depresi. Hal ini karena depresi sendiri memiliki cakupan yang luas.

Untuk membedakannya, kesepian adalah permasalahan yang berkaitan erat dengan hubungan sosial. 

Loneliness adalah suatu kondisi di mana hubungan sosial yang kita miliki tidak sesuai dengan ekspektasi kita,” tuturnya pada Medcom.id, di Jakarta, Kamis, 7 Februari 2019.

“Misalnya kita berharap kita bisa dekat dengan teman-teman kelas kita, tapi nyatanya kita enggak dekat sama mereka,” lanjutnya.

Sementara itu, stres terjadi karena suatu hal yang spesifik. Anda yang mengalami stres mampu menjelaskan alasan-alasannya. 

“Stres adalah kondisi yang terjadi ketika ada tekanan secara mental akibat hal-hal yang ada di sekitar kita. Stres ada penyebab jelasnya. Misalnya sudah mau deadline, tugasnya terus belum selesai atau enggak punya ide. Dan terjadi hanya saat ada tugas itu saja,” tuturnya.


(Psikolog Klinis Dewasa, Cut Maghfirah Faisal, S.Psi, M.Psi, menyatakan bahwa stres dan kesepian memang berkaitan dengan depresi. Hal ini karena depresi sendiri memiliki cakupan yang luas. Foto: Andrew Le/Unsplash.com)

(Baca juga: Rutin Menangis Dapat Mengurangi Stres?)

Dan terakhir, depresi yang sifatnya lebih luas. Orang yang mengalami depresi bahkan tidak mampu menjelaskan mengapa perasaaan yang dia rasakan tersebut terjadi.

“Depresi adalah situasi sedih berkepanjangan. Tidak mampu untuk merasa kesenangan dan terjadi dalam waktu yang cukup luas dan kurun waktu yang lama,” tuturnya. 

“Makanya mereka yang depresi sering bilang, hidup saya baik-baik saja sih sebenarnya. Saya punya teman, pekerjaan saya bagus, keluarga saya sayang tapi kenapa saya sedih terus ya," lanjutnya.

Cut Maghfirah juga menjelaskan keterkaitan antara kesepian, stres, dan depresi. Kesepian dan stres merupakan gejala awal menuju depresi. 

"Orang yang kesepian itu merupakan gejala awal depresi. Orang yang depresi punya perasaan kesepian tapi kalau yang lonely belum tentu depresi. Jadi loneliness yang bertumpuk-tumpuk dapat menyebabkan depresi. Begitu juga dengan stres,” tuturnya.

Untuk didiagnosa depresi secara klinis, orang tersebut harus menunjukkan minimal lima gejala depresi berikut dalam kurun waktu minimal dua minggu.

Seperti merasa sedih sepanjang waktu, kehilangan minat atau kesenangan, perubahan nafsu makan (meningkat atau menurun), sulit tidur atau terlalu banyak tidur, terlalu banyak bergerak atau sebaliknya, kehilangan energi, merasa tidak berharga, sulit berkonsentrasi, hingga munculnya pikiran bunuh diri.





(TIN)