Bedah Otak Atasi Epilepsi

Puput Mutiara    •    Kamis, 20 Apr 2017 17:16 WIB
studi kesehatan
Bedah Otak Atasi Epilepsi
(Foto: Cumberlandpediatric)

Metrotvnews.com, Jakarta: Epilepsi atau yang dikenal sebagai ayan di Indonesia masih sering dianggap bukan penyakit. Gangguan itu kerap diasumsikan sebagai akibat masuknya roh jahat, kesurupan, bahkan kutukan.

Padahal, epilepsi merupakan penyakit neurologi (persarafan) yang terjadi akibat gangguan listrik di otak. Gangguan listrik itu muncul karena kerusakan jaringan otak ataupun gejala sisa dari suatu penyakit, seperti infeksi, serta faktor genetik.

Di Indonesia, saat ini prevalensi penyandang epilepsi 6 per 1.000 orang atau sekitar 2 juta dari total 240 juta penduduk.

Manifestasi serangan yang dialami penyandang epilepsi pada umumnya juga berbeda-beda, bergantung pada fungsi otak mana yang terganggu. Ada yang mengalami kejang atau bentuk lain semisal perubahan tingkah laku, kesadaran, serta perubahan lain yang hilang timbul baik.

Berdasarkan data, sekitar 30% penyandang epilepsi sulit diobati. Atau dengan kata lain, meski sudah menerima berbagai jenis pengobatan antiepilepsi bertahun-tahun, pasien tak kunjung mengalami banyak kemajuan. Pasien dengan kondisi demikian biasanya direkomendasikan untuk menjalani terapi pembedahan.

Prof dr Zainal Muttaqin SpBS, konsultan bedah saraf dari Epilepsi Center Rumah Sakit Umum (RSU) Bunda Jakarta, mengatakan bedah epilepsi sebenarnya sudah dikenal sejak satu abad lalu. Hanya, penggunaannya mulai meningkat di era 1980 hingga 1990-an dan baru dianggap sebagai salah satu cara paling efektif untuk mengatasi epilepsi.

"Kalau dulu kerap menjadi pilihan terakhir, sekarang bedah epilepsi direkomendasikan dilakukan lebih awal karena berdasarkan hasil penelitian, semakin awal pembedahan dilakukan, hasilnya semakin baik," ujarnya saat temu media membahas bedah epilepsi di RSU Bunda, Jakarta, Sabtu (15/4).

Ada beberapa kriteria penyandang epilepsi yang sebaiknya menjalani pembedahan. Satu di antaranya penyandang epilepsi parsial yang sulit dikendalikan dengan pengobatan. Selain itu, tindakan tersebut diyakini memberikan hasil yang baik pada penyandang epilepsi akibat gangguan struktur otak seperti tumor atau kelainan pembuluh darah otak.

Selama sumbernya diketahui, ungkap Zainal, bedah epilepsi mampu mengurangi serangan kejang pada pasien. Rata-rata, pengurangan itu bisa mencapai 78% daripada sebelumnya. "Namun, mengingat sebuah operasi, apalagi dilakukan di otak yang sangat berisiko, tidak selalu berakhir dengan kesuksesan, tentu ada banyak pertimbangan khusus sebelum melakukan tindakan pembedahan. Seleksi terhadap pasien wajib dilakukan," katanya.

Kemungkinan berhasil

Prof Zainal menjelaskan ada beberapa jenis pembedahan untuk epilepsi. Namun, secara umum pembedahan dilakukan untuk menghilangkan area penyebab kejang, mengintervensi jalur saraf yang menyebabkan kejang, atau menanamkan alat khusus pengendali kejang. Pemilihan jenis pembedahan yang dilakukan bergantung pada jenis epilepsinya.

Sebelum pembedahan, pasien harus diberi penjelasan mengenai risiko yang mungkin terjadi. Mulai gangguan memori dan bahasa, gangguan penglihatan, kelumpuhan, gangguan perilaku, atau frekuensi kejang yang justru semakin bertambah. "Karena itu pembedahan hanya dilakukan jika hasil pemeriksaan menunjukkan risiko jauh lebih rendah daripada manfaatnya," tegasnya.

Namun demikian, ia mengimbau pasien tak perlu khawatir. Hasil penelitian 2011 yang diterbitkan jurnal Lancet menunjukkan hampir separuh pasien epilepsi yang menjalani pembedahan dapat terbebas dari kejang bahkan sampai 10 tahun pascapembedahan.

Yang perlu digarisbawahi, lanjut Prof Zainal, terapi pasien epilepsi baik pengobatan maupun pembedahan bukan sekadar untuk mengurangi gejala kejang.

Hal tersebut juga akan memengaruhi hampir semua aspek kehidupan pasien dan keluarga mencakup masalah fisik, sosial, pendidikan dan karier, serta beban biaya. "Yang jelas, epilepsi dapat diobati dan untuk melakukan pembedahan, jangan menunggu sampai langkah terapi obat-obatan tidak berhasil, justru perlu dilakukan sedini mungkin," pungkasnya.


(DEV)