Kurang Tidur Membuat Pikiran Negatif Semakin Mendominasi

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 21 Apr 2017 12:43 WIB
studi kesehatan
Kurang Tidur Membuat Pikiran Negatif Semakin Mendominasi
Penelitian mengindikasi bahwa tidur berperan penting dalam kemampuan untuk mengatur emosi negatif pada penderita rasa cemas dan depresi. (Foto: Psych Pedia - blogger)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah penelitian menemukan bahwa kurang tidur yang dialami penderita depresi dan rasa cemas dapat membuat mereka semakin sulit untuk berpikiran positif. 

Para peneliti dari University of Illinois Chicago College of Medicine di University of Illinois at Chicago College of Medicine tertarik mempelajari bagaimana kurang tidur dapat mempengaruhi area orak yang mengatur respons emosi negatif. 

Mereka menemukan, area otak bernama dorsal anterior cingulate cortex kemungkinan menggunakan lebih banyak energi untuk melawan respons emosi negatif pada penderita kesehatan mental yang kurang tidur dimana mereka juga memiliki tingkat optimisme yang sudah lebih rendah. 



(Baca juga: 3 Langkah Agar Lebih Mudah Tidur)

"Penelitian kami mengindikasi bahwa tidur berperan penting dalam kemampuan untuk mengatur emosi negatif pada penderita rasa cemas dan depresi," ujar pemimpin penelitian Heide Klumpp dalam sebuah pernyataan. 

Penelitian tersebut menggunakan MRI fungsional untuk mengakses area otak yang bereaksi selama terjadi regulasi emosi. Para partisipan berjumlah 78 orang dan berusia 18-85 tahun diberikan beberapa jenis foto kekerasan, seperti adegan perang dan diminta untuk tidak mengontrol reaksi mereka pada foto tersebut atau menilai ulang foto yang bersifat positif. 

Salah satu contoh dari menilai ulang adalah ketika seseorang melihat foto wajah wanita yang terluka, memar, dan tergores namun memvisualisasikannya sebagai aktris yang menggunakan dandanan khusus, bukan karena korban kekerasan.



"Penilaian ulang membutuhkan energi mental yang signifikan dimana pada penderita depresi atau rasa cemas akan sulit dilakukan. Hal ini dikarenakan gangguan mental tersebut memiliki ciri kenegatifan kronik atau perenungan negatif sehingga sulit melihat kebaikan pada hal-hal yang rumit," jelas Klumpp. 

Para partisipan yang memiliki kedua gangguan mental tersebut diberikan kuesioner untuk melihat bagaimana kualitas tidur mereka selama enam hari masa penelitian. 







(TIN)