Terobsesi Bahagia Bisa Memicu Stres Jangka Panjang

Raka Lestari    •    Minggu, 12 Aug 2018 13:54 WIB
studi kesehatan
Terobsesi Bahagia Bisa Memicu Stres Jangka Panjang
(Foto: Lifealt)

Jakarta: Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Emotion menemukan bahwa terlalu terobsesi untuk menghindari kegagalan dan emosi negatif bisa menyebabkan stres jangka panjang. 

"Kebahagiaan adalah hal yang baik, tetapi menetapkannya sebagai sesuatu yang harus dicapai cenderung akan menjadi gagal," ujar  Brock Bastian, psikolog sosial yang menjadi salah satu penulis studi di University of Melbourne School of Psychological Sciences di Australia. 

"Hasil penelitian kami menemukan bahwa mengubah cara orang menanggapi emosi dan pengalaman negatif mereka, membuat seseorang melihat kegagalan secara lebih buruk."

"Ketika seseorang mengalami tekanan besar pada diri mereka untuk merasa bahagia, atau orang-orang di sekitar mereka memberikan tekanan untuk merasa bahagia, mereka justru lebih banyak melihat emosi dan pengalaman negatif sebagai tanda-tanda kegagalan," kata Bastian. 

"Dan hal ini hanya akan mendorong lebih banyak perasaan ketidakbahagiaan."

Bastian mengatakan bahwa penelitian tersebut menggarisbawahi pentingnya mengetahui dan menerima bahwa perasaan tidak bahagia merupakan sesuatu yang normal dan sehat. 

Faktanya, penelitian terbaru menunjukkan bahwa mengalami emosi negatif justru dapat meningkatkan kebahagiaan, sedangkan situasi stres atau tidak menyenangkan membantu orang memproses berita buruk. 

Bastian menekankan bahwa kegagalan bisa sangat berharga untuk proses belajar.

Lihat video:




(DEV)