Tiga Penyebab Alergi pada Orang Dewasa

Torie Natalova    •    Kamis, 19 Jul 2018 12:13 WIB
studi kesehatan
Tiga Penyebab Alergi pada Orang Dewasa
(Foto: Healthcare)

Jakarta: Hampir setengah dari orang dewasa dengan alergi makanan, mengalaminya pertama kali ketika menginjak usia dewasa. 

Penelitian menunjukkan orang dewasa paling sering memiliki reaksi pertama alergi mereka di awal usia 30-an.

Namun, para dokter seringkali mendapati banyak orang yang mengira dirinya terkena alergi setelah makan sesuatu dan hanya berencana menghindari makanan tersebut. Para ahli khawatir jika alergi salah diidentifikasi sehingga meremehkan tingkat 
keparahan alergi, ini dapat menambah jumlah penderita alergi pada usia dewasa.

Sebenarnya, apa yang terjadi pada tubuh ketika Anda memiliki reaksi alergi?

Berbagai makanan dapat saja membuat Anda sakit perut atau merasa mual. Tetapi, itu bukan pertanda alergi karena biasanya alergi yang benar dapat menghasilkan reaksi tertentu.

Menurut ahli alergi Naba Sharif, reaksi alergi memiliki serangkaian gejala umum seperti gatal-gatal, bengkak, mengi atau muntah terus-menerus. 

Reaksi alergi kadang-kadang ringan, tapi hasil studi 2017 menunjukkan bahwa lebih banyak orang dewasa yang alergi makanan mengalami anafilaksis atau reaksi yang menyebabkan saluran udara membengkak, tekanan darah menurun drastis dan tubuh mengalami syok. Tanpa pengobatan segera, anafilaksis ini bisa berakibat fatal.

Makanan seperti ikan, kerang, kacang dan kacang pohon, biasanya paling sering memicu alergi pada orang dewasa. Meskipun belum diketahui penyebab jelas mengapa alergi dapat terjadi saat dewasa, para ahli menduga tiga hal ini mungkin memiliki peran.

1. Kurang mengenal makanan

Jika seseorang tidak pernah mengonsumsi alergen seperti kacang dan ikan sejak masa bayi, ada kemungkinan hal ini dapat menyebabkan perkembangan alergi di kemudian hari atau saat dewasa.

2. Kurang vitamin D

Hampir 70 persen orang dewasa tidak mendapatkan cukup vitamin D, yang memainkan peran penting dalam fungsi kekebalan tubuh. Kadar vitamin D yang rendah berkaitan erat dengan peningkatan kepekaan terhadap alergi.

3. Perubahan mikrobioma usus

Tingkat bakteri baik dan jahat dalam usus dapat diubah oleh antibiotik dan produk antibakteri, juga kebiasaan pola makan, dan ini bisa menyebabkan alergi makanan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa perubahan dalam mikrobioma usus dapat bertanggungjawab atas pemicu alergi.




(DEV)