Kenali Faktor Risiko Penyakit Stroke

   •    Selasa, 08 May 2018 16:14 WIB
kesehatanstroke
Kenali Faktor Risiko Penyakit Stroke
Ilustrasi. (Thinkstock)

Jakarta: Sample Registration Survey (SRS) yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan menyebut sejak 2015 penyakit stroke menjadi pembunuh nomor satu di Indonesia.

Kondisi ini patut menjadi perhatian lantaran pada era 90-an, penyakit yang membuat penderitanya bisa mengalami cacat permanen ini masih berada di peringkat empat. Selain faktor risiko, perubahan gaya hidup juga diasumsikan sebagai pemicu seseorang terkena stroke.

"Stroke ini bukan penyakit yang timbul sendiri, tapi ada prosesnya. Banyak pasien yang terlambat datang ke rumah sakit dan mengalami kecacatan bahkan kematian padahal penyakit ini bisa dicegah," ungkap Dokter Spesialis Saraf Salim Harris, dalam Newsline, Selasa, 8 Mei 2018.

Salim beberapa faktor risiko seseorang terkena stroke bukan hanya berasal dari penyakit namun juga sebab non penyakit. Faktor risiko yang berupa penyakit erat kaitannya dengan kerusakan pembuluh darah karena tekanan darah tinggi.

Kemudian penyakit degeneratif lain seperti diabetes melitus, penyakit jantung, kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol, mengonsumsi makan dengan orientasi lemak tinggi juga dinilai tak baik bagi pembuluh darah.

"Jadi kalau kita kelompokkan ada tiga unsur utama yang mengakibatkan gangguan fungsi otak yaitu pembuluh darah, jantung, dan darah itu sendiri. Kalau jantung mengalami gangguan pemompa darah akan berkontribusi pada bekuan darah di otak," ungkapnya.

Pun jika dihubungkan dengan faktor umur, semakin bertambah usia seseorang faktor risiko terkena stroke pun semakin besar. Namun bukan berarti mereka yang masih berusia muda atau di bawah usia 40 tahun terbebas dari stroke. 

"Misalnya mereka yang menderita migrain. Migrain itu sakit kepala yang berhubungan dengan gangguan pembuluh darah, ini juga berisiko menimbulkan stroke termasuk penderita kebocoran jantung ringan meski tidak dirasa tapi berisiko terkena stroke," jelas Salim.




(MEL)