Ubah Paradigma 'Anak Gemuk itu Sehat'

   •    Senin, 18 Sep 2017 16:26 WIB
kesehatan anak
Ubah Paradigma Anak Gemuk itu Sehat
Ilustrasi. (Smartkids Asia)

Metrotvnews.com, Jakarta: Dulu, banyak orang tua mengasumsikan bahwa anak bertubuh gempal dan berisi adalah anak yang sehat dan lucu. Tetapi di zaman serba modern dengan segala sesuatu yang sudah serba instan, anggapan bahwa anak gemuk itu sehat dan lucu sudah harus diubah.

Memang, tidak ada yang salah dengan memiliki anak yang gemuk. Namun harus disadari bahwa gemuk bisa menjadi tanda gangguan kesehatan tertentu, misalnya obesitas yang bisa terjadi pada siapapun termasuk pada anak-anak.

Dokter Spesialis Anak Nita Ratna Dewanti mengatakan kasus obesitas sudah menjadi problem yang prevalensinya meningkat dari tahun ke tahun. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa ada 10 persen anak di sekolah mengalami obesitas, bahkan 27 persen anak di sekolah swasta pun menderita obesitas.

"Anak yang gemuk memang belum tentu obesitas. Obesitas berada di satu level di atasnya. Jadi ada tahapannya. Makanya memang harus dilakukan pengukuran tinggi badan, berat badan atau bahkan dengan mengukur lengan atau lingkar perut baru bisa terlihat," ujar Nita, dalam Metro I-Care, Minggu 17 September 2017.

Selain melakukan pengukuran, cara lain untuk mengetahui tanda-tanda bahwa seorang anak mengalami obesitas atau kegemukan adalah dengan melihat gejala klinis yang terlihat. Misalnya ukuran pipi yang gemuk, atau lipatan tubuh yang tak biasa.

"Dari bentuk kaki pun bisa dilihat. Pahanya itu nempel karena terlalu gemuk. Tetapi memang patokannya itu berat badan ideal untuk menentukan apakah obesitas atau tidak," katanya.

Menurut Nita ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan seorang anak mengalami obesitas. Bisa karena faktor genetik, penyakit bawaan, atau kelainan hormon.

Tetapi penyebab itu tak banyak, hanya 10 persen. 90 persen sisanya adalah faktor lingkungan, di antaranya asupan makanan yang terlalu banyak dan tidak disertai aktivitas yang cukup.

"Ditambah lagi perilaku yang kurang sehat. Misalnya nonton TV sambil ngemil. Perilaku seperti itu harus diubah karena itu akan menyebabkan anak menjadi tidak bergerak. Sebagai orang tua kita bisa memberi tanggung jawab kepada anak untuk misalnya mengerjakan aktivitas rumah tangga. Itu akan membantu anak bergerak," jelasnya.




(MEL)