Brokoli Mampu Kontrol Kadar Gula pada Penderita Diabetes Tipe 2

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 16 Jun 2017 17:06 WIB
studi kesehatan
Brokoli Mampu Kontrol Kadar Gula pada Penderita Diabetes Tipe 2
Sebuah penelitian menemukan bahwa konsumsi ekstrak brokoli dapat membantu mengontrol gula darah pada penderita penyakit diabetes tipe 2. (Foto: Pinterest/Instagram)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah penelitian menemukan bahwa konsumsi ekstrak brokoli dapat membantu mengontrol gula darah pada penderita penyakit diabetes tipe 2. Brokoli memiliki banyak nutrisi seperti vitamin, serat, dan fitokimia yang melawan berbagai penyakit.

Diabetes tipe 2 dialami sekitar 450 juta orang di seluruh dunia dan 15 persen diantaranya tak bisa melakukan terapi lini satu metformin karena risiko kerusakan ginjal.



Penemuan tersebut menunjukkan bahwa brokoli yang juga kaya akan sulforaphane, dapat membantu membalikkan pertanda kanker.

(Baca juga: Benarkah Brokoli Baik untuk Cegah Penuaan?)

Studi yang mengujicoba tikus tersebut menunjukkan bahwa komponen sulforaphane menurunkan produksi glukosa dari sel hati yang tumbuh dan mengubah ekspresi gen hati agar menjauh dari keadaan berpenyakit pada tikus diabetes.

"Sulforaphane membalikkan penanda dalam hati dari hewan diabetes dan memotong produksi glukosa yang berlebih dan intoleransi glukosa dengan kemiripan yang sama seperti metformin," ujar Annika Axelsson dari Lund University, Swedia.

Selain itu, sulforaphane yang terdapat pada ekstrak brokoli juga membantu menurunkan gula darah puasa dan hemoglobin glikasi (HbA1c) pada pasien obesitas yang menderita diabetes tipe 2.



Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science Translational Medicine tersebut membangun sebuah penanda diabetes tipe 2 berdasarkan 50 gen, kemudian menggunakan kumpulan data ekspresi yang tersedia bebas untuk melihat apakah dari 3.852 senyawa obat ada yang berpotensi membalikkan penyakit.

Ketika para peneliti memberi ekstrak brokoli terkonsentrasi kepada 97 pasien diabetes Tipe 2 pada percobaan terkontrol plasebo selama 12 minggu, peserta obesitas yang mengalami penyakit yang tidak teratur menunjukkan penurunan kadar glukosa darah puasa secara signifikan dibandingkan dengan pasien yang  terkontrol. 








(TIN)