RSUI, Pamki dan Pfizer Bentuk Pengendalian Reistensi Antibiotik

Dhaifurrakhman Abas    •    Kamis, 15 Nov 2018 19:54 WIB
antibiotik
RSUI, Pamki dan Pfizer Bentuk Pengendalian Reistensi Antibiotik
Universitas Indonesia bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Microbiologi Klinik Indonesia (PAMKI) dan produsen obat Pfizer, bekerjasama membentuk Program Pengendalian Resistensi Antibiotik (PPRA) di Indonesia. (Foto: Dok. Medcom.id/Dhaifurrakhman Abas)

Jakarta: Resistensi antibiotik menjadi ancaman global. Pasalnya hal itu mengakibatkan 700 ribu kematian per tahun di seluruh dunia.

Jika tak ditanggulangi, World Health Organization (WHO) memprediksi akan ada 10 juta kematian di tahun 2050. Resistensi antibiotik merupakan keadaan di mana bakteri tidak dapat lagi dibunuh dengan antibiotik.

Penyebabnya bisa bermacam-macam. Namun yang menjadi perhatian khusus karena penggunaan antibiotik yang berlebihan dan menyalahi resep yang seharusnya diberikan.

"Akibatnya, (bakteri) menyusaikan diri atas molekul antibiotik ketika diobati. Seperti manusia yang awalnya lemah, lalu mencari cara untuk bertahan hidup," kata dr. Anis Karuniawati, Ph.D., Sp.MK(K), Sekretaris Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA), di Rumah Sakit Universitas Indonesia, Depok, Kamis 15 November 2018.

Selama ini masih banyak persepsi yang salah terkait penggunaan antibiotik. Masyarakat dan kalangan medis masih menganggap antibiotik adalah dewa yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Padahal beberapa penyakit yang sebetulnya disebabkan oleh bukan bakteri tidak membutuhkan antibiotik dalam pengobatannya. Bisa dibilang terapi antibiotik tidak akan ampuh, malah mengundang resistensi bakteri lain yang ada di dalam tubuh.


(Resistensi antibiotik menjadi ancaman global. Pasalnya hal itu mengakibatkan 700 ribu kematian per tahun di seluruh dunia. Foto: Ilustrasi. Dok. Sharon McCutcheon/Unsplash.com)

(Baca juga: WHO: Antibiotik Mulai Tak Mempan Hadapi Beberapa Jenis Penyakit)

"Jika itu terjadi, bisa mengancam kemampuan tubuh dalam melawan berbagai penyakit infeksi," ujar Anis.

Untuk itu Universitas Indonesia bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Microbiologi Klinik Indonesia (PAMKI) dan produsen obat Pfizer, bekerjasama membentuk Program Pengendalian Resistensi Antibiotik (PPRA) di Indonesia. Hal ini juga untuk melanjutkan penatalaksanaan antibiotik yang dikeluarkan melalui Peraturan Kementerian Kesehatan nomor 8 tahun 2015.

Adapun progran PPRA antara lain, penatalayanan aktif untuk mendukung upaya pendidikan bagi para tenaga kesehatan profesional dan masyarakat umum. Inovasi alat pengawasan resistensi yang efektif (Antimicrobial Testing Leadership and Surveillance).

Kebijakan golobal pengembangan antibiotik. Memperluas portofolio obat anti-infektif dan penerapan praktik manufaktur yang bertanggung jawab.

"Meski begitu, semua aspek tentu dibutuhkan perannya. Agar memberikan informasi kepada masyarakat untuk mengendalikan penggunaan antibiotik," pungkasnya.




(TIN)