Studi: Bantuan Teknologi Ampuh Hentikan Kebiasaan Merokok

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 02 Aug 2018 14:28 WIB
kesehatan
Studi: Bantuan Teknologi Ampuh Hentikan Kebiasaan Merokok
Para peneliti dari Case Western Reserve University telah mengembangkan sistem baru yang bisa membantu pengguna berhenti merokok. (Foto: Pixabay.com)

Jakarta: Sebuah penelitian baru mengungkapkan bahwa penggunaan teknologi dalam upaya berhenti merokok cukup ampuh. 

Para peneliti dari Case Western Reserve University telah mengembangkan sistem baru yang bisa merasakan gerakan merokok, mengirim pesan teks dan video motivasi untuk membantu pengguna berhenti merokok. 

Mereka menggunakan teknologi sensor yang dapat dipakai untuk mengembangkan sistem peringatan otomatis untuk membantu orang berhenti merokok.

Dari permen nikotin hingga hipnosis, belum ada produk atau program yang mempen untuk membantu orang berhenti merokok. 

Baru-baru ini, teknologi semakin populer dalam memerangi kecanduan.

(Baca juga: Begini Cara Rokok Merusak Sel Otak)


(Para peneliti dari Case Western Reserve University telah mengembangkan sistem baru yang bisa merasakan gerakan merokok, mengirim pesan teks dan video motivasi untuk membantu pengguna berhenti merokok. Foto: Irina Kostenich/Pexels.com)
 

Para peneliti mengatakan bahwa sebagian besar penelitian sebelumnya telah mengandalkan pada perokok yang melaporkan sendiri seberapa sering mereka merokok, sementara sistem baru secara lebih akurat dalam melacak aktivitas merokok berdasarkan pada sensor.

"Kami telah dapat membedakan antara satu gerakan, yang biasanya membingungkan antara makan atau minum, dan urutan gerakan yang lebih jelas terkait dengan tindakan mengisap rokok," kata Ming-Chun Huang, seorang peneliti.

Menurutnya, bidang pengendalian tembakau benar-benar mengadopsi teknologi seluler karena banyak orang enggan untuk terapi.

Merokok tembakau dapat memicu kematian karena mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia, termasuk karbon monoksida, hidrogen sianida, dan nitrogen oksida.

Tembakau adalah bahan kecanduan yang paling sulit dihentikan. Selain itu, secara neurologis lebih sulit untuk berhenti karena manusia memiliki lebih banyak reseptor nikotin di otak.





(TIN)