Penelitian: Bekerja Lebih dari 45 Jam per Minggu Berisiko Mengidap Diabetes Tipe 2

Anggi Tondi Martaon    •    Senin, 09 Jul 2018 09:15 WIB
diabetes
Penelitian: Bekerja Lebih dari 45 Jam per Minggu Berisiko Mengidap Diabetes Tipe 2
Meski lembur menunjukkan suatu dedikasi mencintai pekerjaan, namun hal itu tidak baik juga bagi kesehatan. (Foto: Thought Catalog/Unsplash.com)

Jakarta: Pekerjaan yang dilakukan menuntut segala hal salah satunya waktu. Terkadang, tubuh dituntut bekerja melebihi waktu normal atau lembur.

Meski lembur menunjukkan suatu dedikasi mencintai pekerjaan, namun hal itu tidak baik juga bagi kesehatan. Menurut sebuah penelitian menyebutkan bahwa wanita yang bekerja 45 jam atau lebih jam per minggu berisiko mengidap diabetes tipe 2 lebih tinggi.

Penulis utama studi Peter Smith mengaku tidak mengetahui mengapa hal itu terjadi, khususnya terhadap wanita. Tim peneliti menduga, hubungan lembur dengan potensi diabetes tipe 2 disebabkan karena beban yang berada dipundak kaum hawa lebih berat daripada pria.

Selain memikirkan pekerjaan, kata Smith, perempuan juga memiliki tanggung jawab lain, diantaranya keluarga bagi yang sudah menikah. 

"Jika Anda melihat waktu yang dihabiskan di luar pekerjaan, perempuan lebih memerhatikan anggota rumah tangga dan pekerjaan rumah tangga yang lebih rutin. Satu-satunya hal yang tidak dilakukan oleh perempuan adalah menonton TV dan berolahraga," kata Smithsaat dikutip dari WebMD.

(Baca juga: Sering Lembur Berpengaruh Terhadap Kesehatan Jantung)


(Penulis utama studi Peter Smith mengaku tidak mengetahui mengapa hal itu terjadi, khususnya terhadap wanita. Tim peneliti menduga, hubungan lembur dengan potensi diabetes tipe 2 disebabkan karena beban yang berada dipundak kaum hawa lebih berat daripada pria. Foto: Andrew Neel/Unsplash.com)

Ilmuwan senior di Institute for Work and Health di Toronto itu menjelaskan, kesimpulan tersebut lahir setelah tim mengikuti jejak kesehatan 7.000 orang dewasa (34-74 tahun) di Ontario, Kanada, selama 12 tahun. 

Para peneliti memperhitungkan faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, status perkawinan, orang tua, etnis, tempat tinggal, gaya hidup, berat badan, merokok dan semua kondisi kesehatan kronis. 

"Mereka juga memasukkan faktor-faktor seperti shift kerja, jumlah minggu bekerja dalam setahun, dan apakah pekerjaan itu aktif atau tidak aktif," ungkap dia.

Selama masa penelitian, satu dari 10 orang menderita diabetes. Menariknya, studi ini tidak menemukan hubungan yang signifikan jam kerja pria dengan diabetes tipe 2. Tetapi, hal sebaliknya justru terlihat pada wanita.

"Setidaknya 50 persen peningkatan risiko terkena diabetes," kata Smith.

Meski melihat ada hubungan Smith menyebutkan bahwa penelitian yang dilakukanya tidak bisa menjelaskan sebab-akibat antara kerja lembur dengan diabetes tipe 2 bagi wanita. Namun, tim menilai jam kerja yang panjang dapat menyebabkan respons stres.

Hal itu mungkin menyebabkan ketidakseimbangan hormon dan resistensi insulin yang dapat berkontribusi terhadap perkembangan diabetes.

Sementara itu, Direktur Pusat Diabetes Klinis di Montefiore Medical Center di New York CityDr Joel Zonszein sependapat dengan hasil penelitian tersebut, Menurutnya, tingkat stres yang dialami oleh wanita karier lebih besar karena harus memikirkan tanggung jawab keluarga dan pekerjaan.

"Bekerja 45 jam atau lebih setiap minggu dapat dikaitkan dengan peningkatan kejadian diabetes, dan tentu saja, di Amerika Serikat banyak yang memiliki pekerjaan ganda, sehingga mereka bekerja lebih banyak jam daripada apa yang dikutip oleh tetangga Ontarian kami," Zonszein kata. Studi ini dipublikasikan online 2 Juli di BMJ Open Diabetes Research and Care.





(TIN)