YKPI Gelar Seminar Deteksi Dini Kanker Payudara

Intan Yunelia    •    Sabtu, 27 Oct 2018 12:19 WIB
kanker payudarapenyintas kanker
YKPI Gelar Seminar Deteksi Dini Kanker Payudara
Yayasan Kanker Payudara Indonesia LInda Gumilar. Foto Medcom.id Intan Yunelia.

Jakarta: Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) menyelenggarakan temu penyintas kanker payudara se-Indonesia bertema 'Motivasi Yang Kuat Membantu Upaya Menjalani Pengobatan Kanker Payudara-Kamu Bisa, Kita Bisa!'. 450 penyintas menghadiri acara tahunam yang sudah jalan ketiga kalinya ini.
 
Ketua YKPI Linda Agum Gumelar mengatakan kegiatan ini perlu untuk membangun motivasi para penyintas kanker payudara. Melalui masa-masa sulit sekaligus membangun kualitas hidup para penyintas.
 
"Oleh karenanya nanti ada sesi membangun motivator James Gwee, testimoni penyintas yang menginspirasi selain sharing info seputar kanker paydara dan limfadena oleh dr Walta Gautama dari RS Kanker Dharmasi," kata Linda di pembukaan Temu Penyintas Kanker Payudara, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta Pusat, Sabtu, 27 Oktober 2018.
 
Pendiri YKPI ini melanjutkan bahwa kepedulian dan dukungan kepada para penyintas kanker payudara dapat menekan angka kejadian kanker payudara stadium lanjut. Jika kanker payudara ditemukan dalam stadium awal, kemungkinan untuk bisa mencapai harapan hidup sekitar 98 persen.

Baca: Deteksi Dini Kanker Payudara, Kapan Baiknya Lakukan SADARI?

Sementara itu, dari data Globacan 2018 angka kejadian kanker payudara pada perempuan di Indonesia yang didiagnosa kanker adalah yang paling tinggi sekitar 42,1 persen.
 
"Hal ini terjadi karena pasien pada umumnya datang memeriksakan diri ke dokter hampir 70 persen sudah dalam stadium lanjut," ucap Linda.
 
Linda menjelaskan pengobatan penyakit mematikan yang juga bisa menyerang anak muda dan laki-laki ini memang tidak murah. Melalui program YKPI upaya pencegahan dini kanker payudara stadium lanjut dengan sosialisasi deteksi dini ke beberapa daerah serta pengoperasian unit mobil mammografi bekerjasama dengan RSK Dharmais yang membutuhkan biaya tinggi.
 
"Sejak 2015 hingga Agustus 2018 kami telah melakukan pemeriksaan mammografi sebanyak 10.544 di mana 1.565 orang di antaranya mengalami tumor jinak dan 152 orang dicurigai ganas," kata Linda.




(FZN)