Benarkah Lari Mundur Lebih Bermanfaat daripada Lari Maju?

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 24 Aug 2017 14:21 WIB
kesehatan
Benarkah Lari Mundur Lebih Bermanfaat daripada Lari Maju?
Bagi Anda yang tertarik mengganti rutinitas ke lari mundur, Prof. Aru menyarankan agar memulai dari jarak pendek dan rutin, yaitu tiga kali seminggu. (Foto: Dok. Newyork Ten/dailymail.co.uk)

Metrotvnews.com, Jakarta: Banyak orang rutin melakukan olahraga lari. Namun pernahkah Anda mencoba lari mundur? Meskipun terdengar aneh, ternyata jenis lari tersebut ternyata memiliki manfaat lebih banyak dibandingkan lari maju.

"Lari mundur membantu lanjut usia (lansia) memperbaiki keseimbangan jalan, meskipun hanya jarak pendek," ujar Prof. DR. dr. Aru Wisaksono, SpPD-KHOM selaku Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dalam konferensi pers Betadine Retro Run 2017, Rabu 23 Agustus 2017.



Selain itu, lari mundur juga bermanfaat bagi panca indera penglihatan. Hal ini dikarenakan pelari melihat melalui sudut mata saat berlari sehingga mempertajam penglihatan dengan tujuan menghindari bahaya.

Menurut video Bright Side, lari mundur enam kali lebih efektif daripada lari maju dimana 100 langkah lari mundur setara dengan 1.000 langlah lari maju.

(Baca juga: Mengubah Gaya Lari Bantu Bakar Kalori Lebih Banyak)

Selain itu, lari mundur juga membuat otot kaki bekerja tanpa membahayakan sendi kaki dan mengurangi tekanan pada bagian lutut.

Bagi Anda yang tertarik mengganti rutinitas ke lari mundur, Prof. Aru menyarankan agar memulai dari jarak pendek dan rutin, yaitu tiga kali seminggu. "Jangan dipaksa, harus ada jalur lari yang datar, jangan naik turun," tambahnya.



Di Indonesia sendiri, lomba lari mundur mendapat animo yang positif dari masyarakat. Hal tersebut terbukti dari suksesnya Betadine Retro Run 2016 tahun lalu. Oleh karena itu, lomba lari tesebut kembali diadakan untuk yang kedua kalinya pada 17 Sepetember 2017 di Lot 8 SCBD Jakarta.

Untuk tahun ini, target peserta yang diharapkan meningkat menjadi 1.500 orang dan bekerjasama dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dimana biaya pendaftaran sebesar Rp150 ribu akan disumbangkan seluruhnya pada yayasan tersebut.










(TIN)