Remaja Paling Rentan Bunuh Diri, Ini Langkah Mencegahnya

Patricia Vicka    •    Rabu, 23 Aug 2017 14:28 WIB
psikologi
Remaja Paling Rentan Bunuh Diri, Ini Langkah Mencegahnya
Orangtua diminta mengajarkan anak-anak "management stress" agar anak bisa cepat bangkit dari keterpurukan. Juga diajarkan untuk tidak membully, melakukan kekerasan pada temannya sejak dibangku PAUD. (Foto: Chalis/Unsplash.com)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Fenomena bunuh diri kini makin meningkat di masyarakat Indonesia. Indonesia menempati urutan ke-114 di dunia (per 100.000 populasi) sebagai negara yang warganya banyak melakukan bunuh diri. 

Ahli kedokteran jiwa, Dr. dr. Carla Raymondalexas Marchira, mengatakan remaja paling rentan melakukan bunuh diri. Disusul orangtua berusia non produktif.

"Bunuh diri menjadi penyebab utama kedua kematian pada usia 15-29 tahun. Kalau non-produktif yang rentan berusia di atas 60 tahun,"ujar Dokter Carla dalam dialog Fenomena Bunuh Diri: Aspek Psikiatri & Psikologi di UGM Yogyakarta, Selasa (22/8/2017) lalu.



Dokter Carla menambahkan setiap orang punya faktor pemicu yang berbeda-beda yang membuatnya untuk bunuh diri. Namun, sebagian besar remaja bunuh diri disebabkan permasalahan asmara dan hubungan dengan kelompok sosial dan keluarga.

Sementara dikalangan lansia faktor pemicu utama adalah penyakit yang tak kunjung sembuh. "Remaja itu hormonnya naik turun. Jadi Mood mereka berubah-ubah dan labil. begitu ada pemicu stres sedikit bisa membuat remaja tidak berfikir panjang dan mencoba bunuh diri,"jelasnya.

Berdasarkan data WHO, Cara-cara yang biasa dilakukan untuk menghilangkan nyawa adalah meneguk pestisida, gantung diri dan menggunakan senjata api atau tajam.

Ahli Psikologis Klinis Dra. Sumarni, M.Kes menjelaskan faktor turunan juga bisa memicu seseorang hendak bunuh diri. Ada beberapa orang yang punya gen yang memacunya mudah stres dan depresi. Berdasarkan penelitian pria lebih rentan bunuh diri tiga kali lipat dibanding wanita.

"Walau ada faktor pemicu, dan niat tapi tindakan bunuh diri membutuhkan keberanian yang besar. Tanpa keberanian, niat dan alat tidak akan berhasil," kata Sumarni.

Upaya untuk menekan tindakan bunuh diri bisa dilakukan dengan meningkatkan imun (daya tahan) mental. Imun mental yang tinggi membuat kesehatan jiwa baik dan stabil. Menurut Sumarni, peningkatan kesehatan mental bisa dilakukan sejak dini dan orangtua berperan penting melatihan kekuatan mental anak-anak.


(Dr. Carla (kiri) dan dokter Sumarni (kanan) dalam dialog "Fenomena Bunuh Diri: Aspek Psikiatri & Psikologi di UGM Yogyakarta," Selasa (22/8/2017) lalu. Foto: Dok. Metrotvnews.com/Patricia Vicka)

(Baca juga: Ketahui Cakupan Bullying yang Luas)

Misalnya sejak usia 0-18 bulan orangtua harus membangun bonding yang kuat dengan anaknya. Jika anak menangis dan butuh sesuatu, orangtua harus peka dan segera mendekapnya.

"Dengan dekapan atau ciuman, anak jadi merasa dicintai, dilindungi dan aman. Anak yang tidak dapat perlakuan itu waktu kecil akan tumbuh menjadi anak yang cemas, penuh ketakutan dan rentan gangguan jiwa," jelasnya.

Orangtua diminta tidak memanjakan anak dan mengabulkan seluruh permintaan anak secara instan. Anak-anak perlu diajari untuk menunggu atau harus memerlukan usaha untuk mendapatkan sesuatu.

"Dengan menunda permintaan anak, dia belajar untuk bersabar dan tidak memaksakan kehendak. Biarkan anak mengalami kegagalan dan belajar dari kegagalannya itu," tutur dia.

Orangtua diminta mengajarkan anak-anak "management stress" agar anak bisa cepat bangkit dari keterpurukan. Terakhir, Sumarni menilai anak-anak juga perlu diajarkan untuk tidak membully, melakukan kekerasan pada temannya sejak dibangku PAUD.









(TIN)