Studi: Perubahan Iklim Mengurangi Jam Tidur

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 30 May 2017 11:26 WIB
studi kesehatantidur
Studi: Perubahan Iklim Mengurangi Jam Tidur
Tidur adalah komponen kritis pada kesehatan manusia. Terlalu sedikit tidur dapat menyebabkan seseorang rentan terkena penyakit dan membahayakan kesehatan fisik dan fungsi kognitif. (Foto: Pinterest/Instagram)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah penelitian menemukan bahwa perubahan cuaca dapat menyebabkan udara malam lebih hangat dari biasanya sehingga dapat membahayakan aktivitas tidur. 

Penemuan tersebut menunjukkan kenaikan suhu malam yang tidak normal sebesar 1 derajat celsius dapat menyebabkan 100 individu menjadi kurang tidur selama tiga hari dalam kurun waktu satu bulan di Amerika Serikat. 

Jika tak ditangani, para peneliti berspekulasi suhu yang lebih hangat dapat menyebabkan enam malam tambahan kurang tidur di tahun 2050 dan 14 malam tambahan di tahun 2099. 



(Baca juga: Tidur 20 Menit di Siang Hari Berikan Manfaat Bagi Pekerja)

"Tidur adalah komponen kritis pada kesehatan manusia. Terlalu sedikit tidur dapat menyebabkan seseorang rentan terkena penyakit dan membahayakan kesehatan fisik dan fungsi kognitif," ujar pemimpin studi Nick Obradovich,mahasiswa doktoral di Harvard University. 

Ia menyimpulkan, tak hanya suhu lingkungan, namun perubahan iklim juga dapat membuat gangguan tidur semakin buruk. 

Studi yang dipublikasikan dalan jurnal Science Advances tersebut meneliti 765 ribu penduduk Amerika Serikat yang memberika laporan pribadi terkait kecukupan tidur dan suhu udara setiap hari. 

Para peneliti menemukan bahwa efek tersebut berpengaruh dua kali lipat pada mereka yang berusia lebih muda dan tiga kali lebih para pada mereka yang memiliki kondisi ekonomi buruk. 

"Kami tak memiliki data tidur dari seluruh dunia, namun berasumsi bahwa pola yang dimiliki sama (dengan Amerika) dimana sekain hangat suatu tempat atau semakin miskin seseorang, atau keduanya, bisa menjadi lebih buruk," tutup Obradovich 







(TIN)