Tiga Faktor Penyebab Kecanduan Game Online

Yatin Suleha    •    Selasa, 17 Jul 2018 13:07 WIB
psikologi
Tiga Faktor Penyebab Kecanduan Game Online
Dari segi biologi, seseorang yang memiliki gangguan neurotransmitter dopamine akan lebih rentan mengalami kecanduan. (Foto: Sabri Tuzcu/Unsplash.com)

Jakarta: Tidak semua orang yang gemar memainkan permainan berbasis internet (online gaming) akan mengalami kecanduan atau ketergantungan.

"Beberapa faktor yang memengaruhi kerentanan terjadinya kecanduan, meliputi faktor biologi, psikologi dan sosial," ujar praktisi kesehatan jiwa, dr. Kristiana Siste, SpKJ (K) kepada Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI saat ditemui di Dept. Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia seperti yang disampaikan dalam rilis yang diterima oleh Medcom.id.

Pada orang yang gemar bermain gim, neurotransmitter dopamine akan meningkat saat ia bermain, sehingga menimbulkan rasa senang (pleasure effect). 

(Baca juga: Dampak Buruk Kecanduan Gim pada Anak)


("Beberapa faktor yang memengaruhi kerentanan terjadinya kecanduan, meliputi faktor biologi, psikologi dan sosial," ujar praktisi kesehatan jiwa, dr. Kristiana Siste, SpKJ (K). Foto: Caspar Rubin/Unsplash.com)

Manusia dilahirkan dengan dopamine yang rendah, akan selalu mencari cara, benda atau kegiatan yang bisa meningkatkan dopaminenya. Maka dari segi biologi, seseorang yang memiliki gangguan neurotransmitter dopamine akan lebih rentan mengalami kecanduan.

Dalam permainan berbasis online seringkali disuguhkan konten-konten yang memacu adrenalin pemainnya.

Selain itu, terdapat tantangan yang senantiasa bertambah di setiap level permainan. "Hal ini tentu menjadi daya tarik sekaligus merupakan risiko bagi orang-orang yang pada dasarnya secara psikologi senang mencari tantangan (novelty seeking)," tulis dalam rilis lagi.

Sementara itu, dari sisi sosial salah satunya pola pengasuhan orang tua yang memberikan gim pada anaknya sejak usia dini sehingga membentuk pola pikir bahwa bila gim adalah tempat mencari kesenangan, sehingga akhirnya mereka ketergantungan.

“Bukan hanya faktor pribadi tetapi ada faktor biologi, psikologi dan sosial yang memengaruhinya”, tandas dr. Siste.





(TIN)