Pembentukan Payudara untuk Menyusui Dimulai Sejak Kandungan Usia 16 Minggu

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 31 Aug 2017 09:15 WIB
kehamilan
Pembentukan Payudara untuk Menyusui Dimulai Sejak Kandungan Usia 16 Minggu
Saat usia kandungan 16 minggu, proses pembentukan payudara mulai terjadi. Dan jika payudara menjadi lebih sensitif saat usia kandungan 3 bulan adalah wajar. (Foto: Dakota Corbin/Unsplash.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Persiapan tubuh untuk menyiapkan kesehatan bayi dalam kandungan rupanya sudah dimulai sejak dini, termasuk untuk urusan payudara yang merupakan sarana menyusui.

"Saat usia kandungan 16 minggu, proses pembentukan payudara mulai terjadi. Makanya jika payudara menjadi lebih sensitif saat usia kandungan 3 bulan adalah wajar," jelas dokter ahli kandungan dr. Febriansyah Darus, SpOG (K) dalam temu media Lactamil, Rabu (30/8/2017).



Pada usia kandungan 16 minggu hingga kelahiran, terjadi laktogenisis pertama dimana payudara mulai memproduksi hormon-hormon yang berpengaruh pada pembentukan ASI untuk makanan si bayi. Sementara, pada bulan kelima dan enam ASI sudah siap diproduksi.

Oleh karena itu, tak heran bila ada wanita yang mengeluarkan ASI saat dalam keadaan hamil, setelah melahirkan, atau beberapa hari setelah proses melahirkan.

(Baca juga: Bayi Prematur Lebih Pintar Bila Diberi ASI Eksklusif Sebulan Pertama)

Seiring dengan hal tersebut, maka terjadi perkembangan payudara dimana volume bagian tersebut akan meningkat karena munculnya kantong ASI sebanyak 15-20 buah. "Itulah mengapa pada wanita yang sudah pernah menyusui akan terasa ada kerikil-kerikil pada bagian dekat kulit," tambah dr. Febri.



Pada proses menyusui, terdapat dua hormon dikeluarkan oleh tubuh yaitu oksitosin dan prolaktin. Hormon prolaktin adalah hormon yang membuat kelenjar susu menghasilkan ASI untuk bayi. Sementara, hormon oksitosin atau hormon cinta adalah hormon yang dipengaruhi oleh psikologis ibu.

"Jika ibu merasa stres atau gelisah saat menyusui, maka ASI bisa tak keluar karena hormon ini juga tidak diproduksi," pungkas Lactamil expert tersebut.










(TIN)