tema khusus rona

Menggunakan Logika, Salah Satu Kunci Sukses Terhindar dari Love Scammer

Yatin Suleha    •    Senin, 11 Jun 2018 13:38 WIB
romansapsikologilove scammer
Menggunakan Logika, Salah Satu Kunci Sukses Terhindar dari Love Scammer
Bukan jaminan bahwa semakin Anda berpendidikan tinggi maka Anda tidak terkena love scammer alias si penipu cinta yang memanfaatkan hati dan pikiran Anda. (Foto: Rawpixel/Unsplash.com)

Jakarta: Bukan jaminan bahwa semakin Anda berpendidikan tinggi maka Anda tidak terkena love scammer alias si penipu cinta yang memanfaatkan hati dan pikiran Anda untuk menguras harta maupun benda yang Anda miliki. Seperti tak memandang bulu, usia berapa saja bisa terkena love scammer ini.

Sebut saja salah satu lagi korban love scammer yaitu Bulan, usianya terbilang sudah tak muda lagi. 42 tahun dan sudah memiliki jabatan yang tinggi. Namun dengan pendidikan yang tinggi, jabatan tinggi serta kehidupan yang mapan, ia tetap terkena rayuan si penipu cinta di dunia maya ini.

"Kita sudah dekat banget. Hubungan kita melalui email, whatsapp, telepon atau video call. Jadi saya percaya banget. Malah pembicaraan kita sudah sampai mau punya anak berapa dan jenis kelaminnya apa," kenang Bulan. 

"Dulu kita kenalnya di apps dating-dating gitu. Waktu janjian katanya mau datang ke Jakarta itu mau ketemu saya dia bilangnya ketahan di Singapura dan kalau saya enggak transfer uang Rp20 juta, maka dia akan dipenjara," kenangnya lagi. 


(Pentingnya komunikasi dengan menggunakan logika serta harus selalu mengisi hati dengan aktivitas yang konstruktif bersama orang-orang yang baik dan bisa memotivasi kita," pesan Efnie untuk menghindari diri dari si love scammer. Foto: Helena Lopes/Unsplash.com)

(Baca juga: Love Scammer, Menabur Cinta Palsu untuk Memanfaatkan Korban)

"Dia pakai nangis segala di telepon. Jadi saya enggak tega. Dan akhirnya setelah berbicara beberapa menit saya putuskan untuk mentransfernya. Dan setelah saya cuma bisa transfer Rp10 juta, telepon dan semua alamat email, whatsapp-nya sudah enggak bisa dihubungin lagi. Hilang sudah enggak bisa ditrack lagi," 

Menurut psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung menerangkan bahwa disinilah pentingnya komunikasi dengan menggunakan logika. "Tidak melibatkan aspek perasaan sama sekali ya," ucap Efnie.

"Proses berpikir kritis di sini memegang peranan penting. Jangan sampai saat afeksi perasaan kita kosong, sehingga mereka mudah masuk," papar Efnie.

"Untuk itu pentingnya komunikasi dengan menggunakan logika serta harus selalu mengisi hati dengan aktivitas yang konstruktif bersama orang-orang yang baik dan bisa memotivasi kita," pesan Efnie.




(TIN)