Dampak Buruk Berpura-pura Bahagia

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 07 Sep 2018 16:46 WIB
psikologi
Dampak Buruk Berpura-pura Bahagia
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Emotion tersebut menunjukkan bahwa terlalu menekankan kebahagiaan membuat orang cenderung terobsesi atas kegagalan dan emosi negatif. (Foto: Lidya Nada/Unsplash.com)

Jakarta: Banyak orang berusaha mendapatkan kebahagiaan dalam hidup mereka. Faktanya, sebuah survei tahun 2017 menemukan hanya 33 persen orang Amerika yang memang merasakannya. 

Sebuah penelitian baru menemukan alasannya: terlalu berusaha. 

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Emotion tersebut menunjukkan bahwa terlalu menekankan kebahagiaan membuat orang cenderung terobsesi atas kegagalan dan emosi negatif ketika kebahagiaan datang, sehingga mereka lebih banyak stres dalam jangka panjang.

"Kebahagiaan adalah hal yang baik, tetapi menetapkannya sebagai sesuatu yang ingin dicapai cenderung gagal," jelas rekan penulis Brock Bastian, seorang psikolog sosial di University of Melbourne School of Psychological Sciences di Australia, dalam email ke Time.

(Baca juga: Studi: Memiliki Saudara Kandung Membuat Seseorang Lebih Empati)

Penelitian tersebut menemukan bahwa perubahan dalam menanggapi emosi dan pengalaman negatif membuat orang merasa lebih buruk tentang hal tersebut dan merenungkannya lebih dalam.

"Ketika orang menempatkan tekanan besar pada diri mereka untuk merasa bahagia, mereka lebih mungkin untuk melihat emosi dan pengalaman negatif mereka sebagai sinyal kegagalan," kata Bastian. "Ini hanya akan mendorong lebih banyak ketidakbahagiaan."


(Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Emotion tersebut menunjukkan bahwa terlalu menekankan kebahagiaan membuat orang cenderung terobsesi atas kegagalan dan emosi negatif ketika kebahagiaan datang, sehingga mereka lebih banyak stres dalam jangka panjang. Foto: Sebastián León Prado/Unsplash.com)

Bastian mengatakan bahwa penelitian tersebut bukanlah sebuah kutukan untuk mencoba bahagia; sebaliknya, ini menggarisbawahi pentingnya mengetahui dan menerima bahwa perasaan tidak bahagia terkadang normal dan sehat.

"Kita harus menghindari pengalaman negatif kita karena bisa saja kita menanggapi mereka dengan buruk ketika mereka muncul.

"Manusia telah berevolusi untuk mengalami serangkaian keadaan emosional yang kompleks dan sekitar setengahnya tidak menyenangkan. Ini tidak berarti mereka kurang berharga, atau membuat mereka mengurangi kualitas hidup kita."

Faktanya, penelitian terbaru menunjukkan bahwa mengalami emosi negatif pada akhirnya dapat meningkatkan kebahagiaan, dan studi baru menemukan bahwa situasi yang membuat stres atau tidak menyenangkan dapat membantu orang memproses berita buruk. Bastian juga menambahkan bahwa kegagalan bisa sangat berharga untuk pembelajaran dan pertumbuhan.

"Kegagalan sangat penting untuk inovasi, pembelajaran dan kemajuan," katanya. 

"Setiap organisasi yang sukses tahu bahwa kegagalan adalah bagian dari jalan menuju kesuksesan, jadi kita perlu tahu bagaimana menanggapi dengan baik terhadap kegagalan."





(TIN)