Studi: Sulit Tertawa Pertanda Adanya Gangguan Emosi pada Anak Laki-laki

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 03 Oct 2017 15:20 WIB
psikologi
Studi: Sulit Tertawa Pertanda Adanya Gangguan Emosi pada Anak Laki-laki
Foto ilustrasi (Foto: Choicez)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah penelitian menemukan bahwa anak laki-laki yang tak ikut tertawa di saat semua temannya tertawa memiliki risiko menjadi psikopat saat dewasa.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Current Biology tersebut menemukan bahwa anak laki-laki yang memiliki gangguan tertentu, termasuk dalam hal emosi, cenderung tak terlalu menunjukkan respons terhadap suara tertawa.

Penelitian tersebut menganalisa perilaku 92 anak laki-laki berusia 11-16 tahun.

"Kebanyakan studi berfokus pada bagaimana individu dengan ciri psikopat memproses emosi negatif, dan bagaimana tanggapan mereka mungkin bisa menjelaskan potensi mereka untuk menyerang orang lain," ujar pemimpin studi Essi Viding yang mengajar di University College London.

Meskipun hal tersebut penting, namun tidak dijelaskan mengapa mereka cenderung gagal bersosialisasi. Kami ingin menyelidiki bagaimana anak laki-laki berisiko mengembangkan emosi psikopat yang berdampak pada afiliasi sosial, seperti tawa."

Hasilnya, 62 peserta masuk dalam kategori mengganggu dan tidak berperasaan. perilaku tersebut digolongkan sebagai ciri umum dari gejala psikopat.

"Tak pantas memberi label psikopat pada anak, karena ini adalah gangguan kepribadian pada orang dewasa. Namun beberapa studi longitudinal menunjukkan bahwa risiko tersebut bisa terlihat dari anak-anak."

Para peneliti melihat bagaimana respons kognitif para peserta pada orang yang tertawa dengan menggunakan MRI. Mereka diperdengarkan berbagai potongan jenis tertawa seperti tertawa biasa, terbahak-bahak, hingga menangis.

Kemudian, para peneliti menanyakan apakah suara rersebut membuat mereka merasa ingin bergabung dan apakah suara tersebut terdengar biasa bagi mereka. Para peserta diminta memberi nilai satu hingga tujuh.

Mereka menemukan bahwa kelompok yang terganggu dan tidak berperasaan cenderung tak ikut tertawa ketika orang-orang di sekitar mereka berekspresi demikian.

Namun, Viding mengakui bahwa sulit untuk mengetahui apakah respons terhadap tawa adalah akibat langsung dari sifat mengganggu atau bukan. Ia menambahkan, dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai bagaimana psikopati terjadi pada anak-anak.




(DEV)